Jakarta, 2 Mei 2025 — Ibukota kembali memanas. Ratusan ribu buruh dari berbagai penjuru negeri mengguncang jantung kekuasaan di Jakarta, tepat di Hari Buruh Internasional. Mereka tak sekadar datang untuk orasi—mereka datang untuk menggugat. Untuk menuntut hak. Untuk meneriakkan kemarahan yang sudah terlalu lama dibungkam oleh rakusnya kekuasaan dan tajamnya kebijakan neoliberal.
Mulai dari Monas hingga Gedung DPR/MPR, lautan massa membentang. Enam tuntutan utama menggema: cabut Omnibus Law, naikkan upah minimum, hentikan sistem outsourcing, hingga bentuk UU Perlindungan Buruh. Spanduk terbentang, orator berteriak lantang, dan genderang perlawanan ditabuh tanpa henti.
Bentrok Tak Terhindarkan
Sekitar pukul 14.00 WIB, suasana memuncak di depan Gedung DPR. Massa mulai mendorong barikade kawat berduri. Polisi merespons dengan semprotan air dan gas air mata. Puluhan orang diamankan, diduga bagian dari kelompok anarko yang memicu kekacauan. Tapi di mata para buruh, kekacauan sejati justru telah lama bercokol di balik gedung megah wakil rakyat yang bisu terhadap penderitaan mereka.
“Kami Sudah Cukup Sabar!”
Salah satu pimpinan aksi, Said Iqbal, berteriak dari atas mobil komando:
“Negara ini sedang sakit. Dan yang meracuni adalah kebijakan elite yang tunduk pada para pemodal. Hari ini, kami tegaskan: buruh tidak akan diam!”
Para peserta aksi bahkan membagikan sayur-mayur gratis sebagai simbol perlawanan terhadap hidup mahal dan upah murah. Sebuah aksi damai yang dibalas dengan ketegangan, seolah menyampaikan: sistem takut pada yang bersatu.
Jakarta Bergetar, Rakyat Bangkit
1.758 aparat dikerahkan untuk mengamankan aksi—tapi tak ada pasukan yang bisa membendung suara rakyat yang menuntut keadilan. Jakarta bergetar bukan oleh kekerasan, tapi oleh keberanian. Aksi ini bukan akhir, tapi awal dari perlawanan panjang menuju Indonesia yang berpihak pada kerja keras, bukan pada kekuasaan yang rakus.