19.4 C
New York

Dedi Mulyadi dan Gebrakan Membina Anak Muda: Jalan Sunyi Menuju Hankamrata yang Presisi

Published:

Jawa Barat — Sosok Dedi Mulyadi kembali mencuri perhatian publik, bukan karena jabatan politik atau manuver kekuasaan, melainkan karena keberaniannya menapaki jalur yang jarang dilalui: membina anak-anak muda yang dianggap “sulit dibina.” Lewat pendekatan budaya, empati sosial, dan kehadiran langsung di tengah masyarakat, Dedi Mulyadi menawarkan sebuah model pembinaan yang bukan hanya menyentuh hati, tapi juga sejalan dengan semangat pertahanan negara semesta (hankamrata) yang diamanatkan UUD 1945.

Di tengah narasi bangsa yang kerap dipenuhi kekhawatiran soal degradasi moral generasi muda, Dedi justru melihat potensi dari anak-anak jalanan, remaja pengangguran, hingga para pemuda yang terlibat kenakalan. Mereka yang sering dipinggirkan, justru ia angkat martabatnya. Ia tak menggunakan ceramah panjang atau hukuman keras, tetapi menghadirkan ruang dialog, kerja sosial, dan pembinaan berbasis budaya lokal.

“Anak muda tidak butuh dihakimi, mereka hanya perlu diajak bicara dengan hati,” ujarnya dalam sebuah kegiatan bersama para remaja di Karawang, beberapa waktu lalu.

Gebrakan ini dinilai sejalan dengan konsep pertahanan rakyat semesta (hankamrata), yang menekankan peran serta seluruh rakyat dalam membela negara, sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (3) UUD 1945. Dalam konteks modern, pertahanan bukan hanya militeristik, melainkan juga pertahanan sosial, ideologi, dan budaya. Di sinilah langkah Dedi dianggap menjembatani pembinaan moral dan nasionalisme anak muda sebagai investasi strategis bangsa.

Pengamat sosial-budaya dari Universitas Padjadjaran, Dr. Diah Kurniasari, menyebut pendekatan Dedi sebagai “presisi sosial” yang dibutuhkan negara saat ini. “Di tengah krisis figur dan merosotnya nilai kebangsaan di kalangan remaja, Dedi Mulyadi menunjukkan bahwa pembinaan bisa dilakukan tanpa kekerasan, tanpa institusi formal, hanya dengan hadir dan peduli,” ujarnya.

Dalam era digital yang serba cepat dan penuh distraksi, pendekatan seperti ini justru menjadi oase. Ia memberi ruang bagi anak muda untuk menemukan jati diri, bukan sekadar dihukum karena salah arah. Dan lebih dari itu, ia menanamkan nilai cinta tanah air dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Langkah-langkah semacam ini diharapkan bisa menjadi inspirasi nasional. Jika negara ingin mewujudkan ketahanan nasional yang kokoh, maka mulailah dengan membina manusia—terutama generasi muda—sebagai fondasi pertama dan utama. Seperti yang sedang diperlihatkan oleh Dedi Mulyadi: sebuah kerja sunyi yang sesungguhnya menjadi gema panjang bagi masa depan bangsa.

Related articles

spot_img

Recent articles

spot_img