Jakarta, 30 Juni 2025 — Partai Persatuan Pembangunan (PPP) akan menggelar Muktamar ke-10 pada 29 September hingga 1 Oktober 2025 di Bali. Ketua Majelis Pertimbangan DPP PPP, Muhammad Romahurmuziy (Romy), menyebut setidaknya ada enam nama yang masuk dalam bursa calon ketua umum, termasuk tokoh dari luar partai.
PPP tengah mempersiapkan suksesi kepemimpinan melalui forum Muktamar setelah pemilu 2024 yang mengecewakan. Dalam persiapan tersebut, Romy membeberkan nama-nama tokoh yang potensial memimpin partai ke depan.
Romy mengungkapkan enam sosok yang saat ini mengemuka di internal PPP, yaitu:
Muhammad Mardiono, Pelaksana Tugas Ketua Umum saat ini
Suharso Monoarfa, mantan Ketua Umum PPP
Taj Yasin Maimoen, Wakil Gubernur Jawa Tengah
Sandiaga Uno, eks Menparekraf RI
Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian
Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman, mantan KSAD
Dua dari nama tersebut, yaitu Amran dan Dudung, merupakan tokoh eksternal yang tidak berasal dari internal PPP.
Acara puncak Muktamar akan diselenggarakan di Bali, pada 29 September–1 Oktober 2025, dan dihadiri oleh seluruh pengurus partai dari tingkat pusat hingga daerah. PPP tengah berupaya melakukan konsolidasi dan penyegaran organisasi pasca hasil Pemilu 2024 yang membuat partai gagal lolos ke parlemen. Pemilihan ketua umum baru dianggap krusial untuk memperkuat struktur partai dan menyusun strategi menuju Pemilu 2029.
Menurut Romy, sebagian besar kader PPP tidak lagi mempersoalkan apakah calon ketua umum berasal dari internal atau eksternal. Ia menilai, yang terpenting adalah kapasitas kepemimpinan dan kemampuan membesarkan partai.
“Yang dilihat bukan hanya latar belakang, tapi kemampuan memimpin dan diterima seluruh kader. PPP membutuhkan tokoh yang bisa menyatukan dan memperluas pengaruh,” ujar Romy dalam keterangannya, Sabtu (29/6/2025).
Keenam nama tersebut mulai melakukan pendekatan politik dengan pengurus wilayah dan cabang. Dinamika ini diperkirakan akan menghangat menjelang Muktamar, seiring terbukanya peluang kolaborasi antarkandidat.
PPP bersiap menjalani momentum penting dalam sejarah partai dengan menggelar Muktamar di Bali. Enam tokoh, baik dari dalam maupun luar partai, masuk bursa ketua umum untuk memimpin PPP menghadapi tantangan politik lima tahun ke depan.