Jakarta, 1 Juli 2025 — Realisasi penerimaan negara dari sektor minyak dan gas bumi (migas) hingga pertengahan tahun ini tercatat masih rendah. Kementerian Keuangan mencatat setoran migas baru mencapai 32% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025, atau sekitar Rp48,6 triliun dari total target Rp152 triliun.
Meski harga minyak dunia sempat stabil, penerimaan negara dari sektor hulu migas tidak sesuai ekspektasi. Kinerja lifting minyak dan gas yang belum optimal menjadi salah satu penyebab utama minimnya setoran migas ke kas negara. Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), serta sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas menjadi pemangku kepentingan dalam sektor ini.
Beberapa faktor yang disebut sebagai biang kerok antara lain:
Target Lifting Tak Tercapai
Realisasi lifting minyak hingga Mei 2025 hanya sekitar 605.000 barel per hari, jauh dari target 635.000 barel per hari. Sementara lifting gas juga belum menunjukkan peningkatan signifikan.Penurunan Produksi di Lapangan Tua
Banyak lapangan migas utama sudah memasuki fase penurunan produksi alami (decline), dan proyek eksplorasi baru belum menghasilkan produksi komersial.Harga Minyak Tak Setinggi Harapan
Rata-rata harga minyak Indonesia (ICP) pada semester I 2025 berkisar di angka USD 74 per barel, lebih rendah dari asumsi APBN sebesar USD 78 per barel.Masalah Teknis dan Perizinan
Beberapa proyek strategis migas mengalami kendala teknis dan perizinan, yang menyebabkan keterlambatan dalam eksekusi dan berdampak pada volume produksi.
Kementerian ESDM dan SKK Migas disebut tengah mempercepat proses perizinan dan mendorong KKKS agar mengoptimalkan produksi dari lapangan-lapangan yang masih memiliki potensi. Pemerintah juga mulai menyiapkan insentif fiskal baru untuk eksplorasi dan pengembangan lapangan marginal.
Jika perbaikan tidak segera dilakukan, target penerimaan migas dalam APBN 2025 berpotensi meleset. Hal ini dapat memengaruhi keseimbangan fiskal, terutama di tengah ketidakpastian global dan kebutuhan pembiayaan yang meningkat.
Rendahnya setoran migas ke negara hingga pertengahan tahun disebabkan kombinasi faktor teknis, struktural, dan harga global. Pemerintah perlu kerja ekstra untuk mengamankan sisa target penerimaan dalam enam bulan ke depan