Jakarta, 2 Juli 2025 – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan kerap melontarkan peringatan keras kepada para menterinya. Ia menegaskan tak segan mencopot pembantu yang dianggap lambat, tidak seirama, atau gagal menjalankan visi-misi pemerintahan. Namun, hingga kini, perombakan kabinet atau reshuffle tak kunjung terjadi.
Peringatan Prabowo bersifat umum, namun sejumlah pengamat menilai arahnya mengarah ke beberapa kementerian yang berkinerja rendah dalam 100 hari pertama pemerintahannya. Meski tak menyebut nama secara langsung, Presiden menegaskan bahwa “menteri yang tidak cepat akan diganti”.
Sinyal keras tersebut dinilai sebagai bentuk tekanan psikologis agar para menteri segera meningkatkan performa. Wakil Ketua DPR dan elite Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menyebut pernyataan Presiden sebagai peringatan keras agar para menteri segera berbenah.
“Kalau ada yang tak seirama atau lambat, bisa saja ditegur atau diganti. Itu hak Presiden,” ujar Dasco, Senin (30/6).
Meskipun pernyataan tegas kerap dilontarkan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada agenda reshuffle resmi dari Istana.
“Evaluasi memang terus dilakukan, tetapi reshuffle belum dalam pembahasan prioritas,” ujarnya kepada wartawan.
Beberapa partai anggota koalisi, termasuk Partai Demokrat, menyerahkan sepenuhnya pada Presiden. Cak Imin (Menko PMK) justru menyebut peringatan semacam itu sebagai hal biasa dalam dinamika pemerintahan.
“Evaluasi itu wajar dan perlu. Itu tidak selalu harus diakhiri dengan reshuffle,” kata Cak Imin.
Belum ada kepastian. Namun, sejumlah analis menyebut bahwa reshuffle bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama jika ketidaksinkronan antar kementerian makin terasa atau Presiden ingin menguatkan koalisi jelang pengesahan program-program strategis.
Menurut pengamat politik, potensi gesekan terjadi di kementerian yang berbasis partai dan non-partai. Isu loyalitas dan efektivitas birokrasi menjadi pertimbangan tersendiri bagi Presiden dalam mengevaluasi performa kabinetnya.
Meski keras dalam retorika, Presiden Prabowo masih menahan diri dalam aksi reshuffle. Publik pun kini bertanya: apakah ini strategi membangun disiplin di tubuh kabinet, atau sekadar ancaman tanpa realisasi?