Jakarta — Presiden RI terpilih Prabowo Subianto memberikan peringatan tegas kepada jajaran kabinetnya agar tidak sepenuhnya mempercayai sistem kapitalisme sebagai jalan utama pembangunan ekonomi. Hal ini disampaikannya dalam forum tertutup yang digelar sebagai bagian dari persiapan transisi pemerintahan, Senin (14/7/2025).
Menurut Prabowo, meskipun sistem pasar bebas telah memberikan kemajuan di banyak negara, pendekatan itu tidak selalu sesuai dengan karakter dan kebutuhan bangsa Indonesia.
“Kita harus hati-hati. Jangan terlalu percaya bahwa pasar akan menyelesaikan segalanya. Kapitalisme yang tidak dikontrol bisa menciptakan ketimpangan dan kerusakan sosial,” ujar Prabowo di hadapan para calon menteri.
Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya akan menekankan pada ekonomi berkeadilan yang mengedepankan peran negara dalam mengelola sumber daya strategis, perlindungan terhadap petani, nelayan, serta pelaku UMKM.
Ia juga menyoroti pentingnya kedaulatan pangan, energi, dan industri pertahanan sebagai prioritas utama. “Negara harus hadir, bukan hanya sebagai regulator, tapi juga pelindung dan pengarah,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo turut mengkritik praktik-praktik globalisasi yang menurutnya hanya menguntungkan negara-negara besar dan sering kali meminggirkan kepentingan nasional negara berkembang.
Pernyataannya sejalan dengan narasi yang ia bangun sejak kampanye: Indonesia harus mandiri secara ekonomi, berani membatasi dominasi asing di sektor-sektor vital, serta membangun sistem distribusi kekayaan yang lebih merata.
Beberapa tokoh yang disebut-sebut masuk dalam lingkaran kabinet Prabowo-Gibran menyambut baik arahan tersebut. Mereka menilai bahwa pendekatan ekonomi yang berimbang antara pasar dan intervensi negara sangat relevan di tengah ketidakpastian global saat ini.