Jakarta, Juli 2025 — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dijadwalkan menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada September mendatang. Kunjungan ini menandai puncak dari rangkaian aktivitas diplomatik global yang semakin menonjolkan Indonesia sebagai kekuatan regional dengan visi global.
Sejak dilantik sebagai presiden, Prabowo tidak hanya berkutat pada isu domestik, tetapi juga secara aktif mengartikulasikan posisi Indonesia dalam geopolitik internasional yang dinamis. Diplomasi yang dilakukannya bukan sebatas simbolik, melainkan mencerminkan pergeseran strategi luar negeri Indonesia ke arah partisipasi aktif dalam arsitektur global baru yang tengah dibentuk.
Manuver Global Indonesia: Dari ASEAN ke PBB
Selama satu tahun terakhir, Prabowo telah menghadiri dan berbicara dalam sejumlah forum utama dunia:
KTT G20 di Brasil: Mendorong transformasi ekonomi berkelanjutan dan keadilan iklim.
KTT APEC di Peru: Menawarkan Indonesia sebagai mitra strategis dalam rantai pasok global.
KTT D8 di Mesir: Memperkuat solidaritas ekonomi antar negara berkembang berbasis populasi muslim.
KTT BRICS di Brasil: Menegaskan posisi Indonesia sebagai penghubung antara Global South dan kekuatan-kekuatan baru.
Forum ASEAN dan dialog dengan Uni Eropa: Memperkuat peran sentral kawasan Asia Tenggara dalam peta geopolitik Indo-Pasifik.
SPIEF di Rusia: Membuka jalan kerja sama energi, pertahanan, dan pangan antara Indonesia dan Eurasia.
Langkah ini menandai konsolidasi peran Indonesia sebagai negara “nonblok baru” yang fleksibel, tetapi tidak netral terhadap ketidakadilan global.
Panggung PBB: Strategi atau Simbol?
Sidang Umum PBB 2025 menjadi momentum penting bagi Prabowo untuk menegaskan kembali posisi Indonesia dalam tiga hal: perdamaian global, reformasi arsitektur keuangan internasional, dan kemerdekaan Palestina.
Sumber internal Istana menyebut Prabowo akan membawa pesan tegas mengenai perlunya tata dunia yang lebih berimbang—di mana suara negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak hanya menjadi pelengkap wacana negara adidaya.
Gaya Diplomasi “Soekarno Kecil”
Di kalangan analis politik, gaya Prabowo mulai dibandingkan dengan pendekatan diplomasi progresif Presiden Soekarno di era pasca-kolonial. Muzzammil, salah satu aktivis kebijakan luar negeri, menyebut Prabowo sebagai “Soekarno kecil” yang mampu berbicara dalam bahasa geopolitik dengan keberanian dan daya tawar tinggi.
“Dia telah membangun komunikasi personal dengan tokoh seperti Vladimir Putin, Recep Tayyip Erdoğan, hingga Donald Trump. Itu bukan hanya simbol kedekatan, tetapi juga cara memperkuat poros Indonesia sebagai negara dengan bobot moral dan ekonomi yang tak bisa lagi diabaikan,” ungkapnya.
Indonesia: Rumah Keempat Dunia yang Tak Lagi Diam
Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menyatakan bahwa pendekatan ini berangkat dari realitas bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. “Kalau dunia ini adalah kampung besar, maka kita adalah rumah keempat terbesar. Sudah waktunya rumah ini tidak hanya jadi penonton,” ujarnya.
Prabowo pun tampaknya tak sekadar mengikuti protokol diplomatik, tapi sedang menyusun ulang narasi Indonesia di mata dunia: dari negara berkembang yang pendiam, menjadi negara berkepentingan yang lantang.