Jakarta, 2 Agustus 2025 – Dalam lanskap politik yang terus bergeser, muncul satu fenomena tak terduga: dua kubu politik yang sebelumnya saling bertarung kini tampak menyatukan arah kritiknya terhadap satu sosok – mantan Presiden Joko Widodo.
Diskusi publik terbaru yang dimoderasi oleh analis media sosial Jan Kurniawan mengungkapkan bahwa persepsi publik terhadap Jokowi terus memburuk, bahkan menempatkannya sebagai “public enemy” di mata dua kelompok yang dulu saling bertarung di arena Pilpres 2019 dan 2024.
“Tinggal dicari lagi isu-isu sampai akhirnya Pak Jokowi jadi musuh bersamanya dua kelompok ini,” ujar narasumber dalam forum diskusi yang viral di media sosial.
Isu Ijazah Palsu Masih Hidup, Survei Malah Jadi Amunisi
Meski pemerintah dan institusi resmi telah menyatakan ijazah Presiden Jokowi sah dan otentik, sebagian publik tetap menolak percaya. Parahnya, survei LSI Denny JA yang menunjukkan 70% publik tidak percaya ijazah itu palsu malah menjadi bahan bakar baru bagi kelompok yang meyakini sebaliknya.
“Makin ditolak, makin militannya orang percaya ijazah itu palsu,” ucap Jan.
“Medsos bukan soal fakta, tapi keyakinan. Realita belakangan.”
Rekonsiliasi Politik yang Mengandung Arah Baru
Diskusi itu juga menyoroti menguatnya tanda-tanda rekonsiliasi antara dua kubu lama: kelompok oposisi era Jokowi dan eks koalisi “penantang”. Kedua kelompok ini kini justru bersatu dalam satu simpul: kritis terhadap warisan politik Jokowi.
“Bukan lagi soal Prabowo vs siapa. Sekarang polarisasinya Jokowi vs anti-Jokowi,” ungkapnya.
Lebih jauh, data Social Network Analysis (SNA) yang dibawa oleh Jan menunjukkan bahwa klaster oposisi kini justru terikat oleh rasa skeptis dan penolakan terhadap Jokowi, bukan terhadap Presiden terpilih Prabowo.
Kenapa Gibran Tak Jadi Target? Fokus Masih ke Jokowi
Menariknya, meskipun Gibran Rakabuming Raka telah dilantik sebagai Wakil Presiden terpilih, isu pemakzulan terhadapnya nyaris tidak terdengar. Justru, isu yang terus hidup adalah tentang Jokowi, ayahnya.
“Kenapa isu pemakzulan Gibran nggak naik? Karena publik masih fokus ke Jokowi,” kata Jan.
Ia juga menyoroti kegagalan kanal aduan digital “Lapor Mas Wapres” yang diluncurkan oleh Gibran, dengan menyebut program itu “mati suri” karena tak ditanggapi publik maupun pemerintah.
Prabowo di Tengah Rekonsiliasi dan Risiko
Menurut analisa Jan, Prabowo justru berhasil memosisikan dirinya sebagai tokoh rekonsiliator. Ia tidak mengambil sikap frontal terhadap pendahulunya, namun mengakomodasi kritik dari dua arah. Hal ini dinilai strategis untuk memperkuat stabilitas politik nasional.
Namun muncul pula kekhawatiran bahwa amnesti dan abolisi yang diberikan kepada tokoh-tokoh kontroversial bisa menjadi preseden buruk, terutama dalam pemberantasan korupsi.
“Saya khawatir, abolisi ini bisa jadi titik awal lumpuhnya hukum dalam kasus-kasus besar,” tutup Jan dalam nada waspada.
Dengan semakin terkonsolidasinya dua kelompok besar oposisi di bawah sentimen anti-Jokowi, bukan tak mungkin mantan Presiden itu akan menghadapi tekanan politik dan sosial yang lebih kuat dari sebelumnya. Di satu sisi, Prabowo tampak diuntungkan oleh dinamika ini, namun di sisi lain, publik tetap menanti: apakah rekonsiliasi ini murni demi kepentingan bangsa, atau hanya skema kekuasaan baru yang dibungkus dengan wajah damai?
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=Ls69RyxDgy8