Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img

Mahasiswa ITS Terjun ke Daerah Transmigrasi Lewat Ekspedisi Patriot 2025

Surabaya, 25 Agustus 2025 – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melepas 228 mahasiswa untuk mengikuti Ekspedisi Patriot 2025, sebuah program pengabdian masyarakat yang berfokus...
HomeEconomyEkonomiDunia Bergerak Menuju Krisis Sistemik, Inilah Aset yang Harus Dimiliki Sebelum Terlambat

Dunia Bergerak Menuju Krisis Sistemik, Inilah Aset yang Harus Dimiliki Sebelum Terlambat

Jakarta, 4 Agustus 2025 – Tahun 2030 bukan sekadar angka dalam kalender. Di baliknya tersembunyi deretan prediksi, gejolak, dan transisi global yang perlahan namun pasti mengguncang struktur ekonomi dan sosial dunia. Lembaga-lembaga internasional seperti World Economic Forum (WEF), Dana Moneter Internasional (IMF), hingga Bank Dunia telah mengisyaratkan bahwa dekade ini adalah masa krusial, penentu arah masa depan umat manusia.

Berbagai perubahan besar—mulai dari percepatan digitalisasi, krisis iklim, ketimpangan ekonomi, hingga runtuhnya kepercayaan pada sistem moneter tradisional—menjadi tanda-tanda zaman yang tak bisa diabaikan. Namun ironisnya, banyak masyarakat masih terlena, terjebak dalam ilusi stabilitas jangka pendek, dan belum menyadari bahwa dunia sedang memasuki babak baru yang jauh lebih kompleks dan tak terprediksi.

“2030 bukan waktu untuk memulai. Itu adalah waktu di mana mereka yang sudah bersiap akan memetik hasil. Sisanya mungkin akan jadi penonton dalam drama krisis,” kata seorang analis tren global yang enggan disebutkan namanya.

Dunia Menuju Krisis Sistemik

Krisis yang akan datang bukan hanya soal resesi. Ia bersifat sistemik, menyentuh berbagai sektor vital: ketahanan pangan, energi, air bersih, dan distribusi kekayaan. Pandemi COVID-19 hanyalah awalan. Kini, inflasi melambung di banyak negara, utang global menyentuh rekor tertinggi, dan kepercayaan terhadap mata uang fiat (seperti dolar dan euro) mulai tergerus.

Amerika Serikat menghadapi polarisasi politik dan ancaman terhadap status dolar sebagai mata uang cadangan dunia. Di sisi lain, Eropa dihimpit tekanan geopolitik dan krisis energi. Negara berkembang, termasuk Indonesia, bergulat dengan utang luar negeri, subsidi energi membengkak, ketimpangan aset, hingga deindustrialisasi.

Dari Krisis Lahir Peluang

Sejarah membuktikan, dari setiap krisis besar, selalu lahir peluang besar. Tapi hanya bagi mereka yang bersiap. Salah satu bentuk kesiapan adalah memiliki aset yang tepat dan antikrisis. Lantas, apa saja aset yang disarankan sebelum 2030?

Aset Digital: Bitcoin dan Ekosistem Crypto

Bitcoin dan aset kripto lainnya kini telah masuk radar institusi besar seperti BlackRock dan Fidelity. Bitcoin hanya memiliki pasokan maksimal 21 juta unit, menjadikannya ‘emas digital’ dalam dunia yang gencar mencetak uang. Ekosistem seperti Ethereum, Solana, dan DeFi (Decentralized Finance) membuka peluang penghasilan dan kebebasan finansial, asalkan pengguna siap belajar dan memahami risikonya.

Aset Produktif: Bisnis Mikro dan Online

Bisnis mikro seperti warung kopi, laundry, dropshipping, hingga content creation menawarkan arus kas nyata dan ketahanan adaptif. Di tengah volatilitas global, memiliki usaha produktif adalah bentuk perlindungan ekonomi yang strategis.

Skill dan Ilmu Pengetahuan

Skill seperti coding, analisis data, digital marketing, public speaking, hingga menulis kreatif akan menjadi mata uang baru. Berbeda dari aset fisik, skill tidak bisa disita, tidak bisa dikenai pajak langsung, dan nilainya meningkat seiring waktu.

Reputasi Digital dan Aset Sosial

Influencer, content creator, bahkan pemilik blog niche dengan pembaca setia kini punya nilai ekonomi tinggi. Era ini adalah era di mana personal brand menjadi kunci peluang. Akun media sosial yang kuat adalah aset.

Aset Alam: Lahan, Air, dan Pangan

Dalam skenario krisis, aset nyata seperti lahan pertanian, sumber air bersih, dan pangan lokal akan menjadi rebutan. Di beberapa negara, sudah muncul regulasi yang membatasi kepemilikan lahan produktif dan mengenakan pajak tinggi pada aset diam.

Waktu Semakin Sempit

Seiring naiknya harga dan terbatasnya akses terhadap aset-aset strategis, akan semakin sulit bagi masyarakat biasa untuk mengejarnya. Jika menunda hingga 2030, bisa jadi semuanya sudah terlambat—baik karena harga sudah naik berkali lipat, atau karena regulasi mempersempit akses.

“Yang punya aset akan bertahan. Yang tidak, akan jadi penonton dalam drama krisis yang menyakitkan,” tulis seorang ekonom independen dalam buletin pribadinya.

Strategi Praktis yang Bisa Dimulai Hari Ini

  1. Audit kekayaan pribadi, ubah konsumsi jadi investasi

  2. Sisihkan dana bukan untuk ditabung, tapi diinvestasikan

  3. Pelajari satu skill yang bisa diuangkan

  4. Bangun akun media sosial, blog, atau channel YouTube

  5. Gabung komunitas yang membangun dan visioner

“Dunia tidak menunggu siapa pun. Jangan tunggu 2030. Bangun aset Anda sekarang sebelum semuanya terlambat.”

Tahun 2030 bukan ancaman, tapi peluang. Bagi yang bersiap, itu adalah momen panen. Bagi yang menunda, itu bisa jadi titik balik yang menyakitkan. Dalam dunia yang terus bergerak, adaptasi dan kepemilikan aset adalah kunci bertahan dan unggul. Pertanyaannya: sudahkah Anda bersiap?