Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img

Mahasiswa ITS Terjun ke Daerah Transmigrasi Lewat Ekspedisi Patriot 2025

Surabaya, 25 Agustus 2025 – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melepas 228 mahasiswa untuk mengikuti Ekspedisi Patriot 2025, sebuah program pengabdian masyarakat yang berfokus...
HomeEconomyEkonomiDirut Agrinas Pangan Mundur di Tengah Kritik Peran Danantara

Dirut Agrinas Pangan Mundur di Tengah Kritik Peran Danantara

Jakarta, 11 Agustus 2025Joao Angelo De Sousa Mota, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, mengundurkan diri setelah menjabat 6 bulan, menyatakan kecewa karena belum dapat memberikan kontribusi signifikan dan merasa kurang mendapat dukungan nyata dari BPI Danantara.

Dalam konferensi pers hari ini, Joao Mota menyampaikan permohonan maaf karena merasa belum memberi kontribusi langsung terhadap ekonomi nasional maupun kesejahteraan petani. “Kami sampai hari ini belum dapat memberikan kontribusi yang nyata dan langsung kepada ekonomi negara maupun kesejahteraan petani,” katanya dengan nada khidmat.

Lebih lanjut dalam wawancara dengan Tirto, Joao Angelo menegaskan bahwa keseriusan Presiden dalam mewujudkan kedaulatan pangan tidak diimbangi oleh dukungan penuh dari pemangku kepentingan, termasuk Danantara dan realisasi anggaran yang tertunda.

Tempo menambahkan bahwa Joao menyentil peran serta dukungan Danantara yang hingga saat ini belum memadai dalam membantu pelaksanaan visi pertanian pemerintah.

PT Agrinas Pangan Nusantara merupakan BUMN hasil transformasi dari PT Yodya Karya dan bertugas mendukung swasembada pangan, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto. Namun, dalam rentang enam bulan kepemimpinannya, Joao merasa terbentur oleh hambatan operasional dan anggaran, serta minimnya dukungan struktural dari Danantara untuk percepatan tujuan nasional tersebut.

Pengunduran diri mendadak Joao Angelo menunjukkan adanya disonansi antara visi top-down pemerintahan dan realisasi dukungan di level pelaksanaan, terutama dari pemangku kepentingan seperti Danantara. Hal ini membangkitkan pertanyaan penting mengenai efektivitas koordinasi institusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.