Budapest, 14 Agustus 2025 – Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, menyampaikan pernyataan kontroversial dengan menyebut bahwa Rusia telah memenangkan perang di Ukraina. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan kanal YouTube Patriot.
Menurut Orban, meskipun banyak negara di dunia masih berbicara seolah konflik belum berakhir, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Ukraina telah kalah. Ia juga menambahkan bahwa pertanyaan yang tersisa kini bukan lagi siapa yang akan menang, tetapi kapan negara-negara Barat akan mengakui kekalahan Ukraina dan menilai dampak strategisnya.
Pernyataan tersebut muncul menjelang pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Agustus 2025. Pertemuan ini dinilai krusial dalam menentukan arah masa depan hubungan antara Barat dan Rusia, serta nasib dukungan terhadap Ukraina.
Sikap Hongaria terhadap Perang
Sejak awal invasi Rusia ke Ukraina, Hongaria telah mengambil posisi berbeda dibandingkan mayoritas negara Uni Eropa. Di bawah kepemimpinan Orban, negara ini:
Menolak mengirim senjata ke Ukraina,
Terus menjalin kerja sama energi dengan Moskwa,
Menjadi salah satu penghambat kebijakan sanksi keras terhadap Rusia di tingkat Eropa.
Viktor Orban sendiri dikenal sebagai salah satu pemimpin Eropa yang paling pro-Kremlin sejak menjabat pada 2010.
Pernyataan Orban diperkirakan akan menimbulkan reaksi keras dari negara-negara pendukung Ukraina, terutama di Eropa Tengah dan Timur. Banyak pengamat menilai komentar tersebut berpotensi melemahkan solidaritas internal Uni Eropa dan NATO, serta menimbulkan pertanyaan tentang komitmen jangka panjang Hongaria terhadap nilai-nilai demokrasi dan keamanan kolektif di kawasan.