Washington, 18 Agustus 2025 – Pertemuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden AS Donald Trump dengan para pemimpin Eropa di Gedung Putih dipandang sebagai salah satu upaya diplomasi paling signifikan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Trump bahkan membuka kemungkinan pertemuan trilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menurutnya dapat menghentikan perang. Namun di balik optimisme itu, banyak keraguan muncul mengenai arah diplomasi ini.
Kepentingan Trump: Mediator atau Penentu?
Trump menempatkan dirinya sebagai tokoh sentral yang dapat menjembatani kedua belah pihak. Dengan gaya khasnya, ia menyebut “bola sekarang ada di tangan Zelenskyy” untuk menyetujui konsesi tertentu.
Bagi sebagian analis, sikap ini menunjukkan Trump berusaha menggeser posisi AS dari sekutu utama Ukraina menjadi mediator netral. Langkah ini bisa meningkatkan citra internasional Trump, tetapi sekaligus berisiko menekan Ukraina untuk berkompromi pada isu-isu yang menyangkut kedaulatan.
Posisi Ukraina: Dilema Zelenskyy
Zelenskyy datang ke Washington dengan dukungan, tetapi juga tekanan. Di satu sisi, ia membutuhkan jaminan keamanan jangka panjang dari Barat, terutama karena militer Ukraina terus menghadapi serangan harian Rusia. Di sisi lain, ia tidak bisa secara politik maupun konstitusional menerima kesepakatan yang mengakui pendudukan Rusia atas wilayah Ukraina seperti Krimea atau Donbas.
Kesediaannya membuka opsi pertemuan trilateral dengan Putin mencerminkan pragmatisme, tetapi garis merah tetap jelas: tidak ada penyerahan wilayah.
Eropa: Menjaga Kesatuan, Menolak Legitimasi Rusia
Para pemimpin Eropa – Macron, Starmer, Merz, Meloni – tampil dengan pesan yang relatif seragam: mendukung diplomasi, tetapi tidak dengan mengorbankan integritas wilayah Ukraina.
Eropa juga khawatir bahwa proses negosiasi yang terlalu dikendalikan Washington dan Moskow bisa memarginalkan kepentingan mereka sendiri, terutama terkait keamanan jangka panjang di kawasan. Karena itu, mereka menekankan perlunya jaminan keamanan model NATO atau setidaknya komitmen militer kolektif bagi Ukraina.
Rusia: Antara Diplomasi dan Serangan Militer
Putin, setelah bertemu Trump di Alaska beberapa hari sebelumnya, menunjukkan keterbukaan terhadap kerangka negosiasi. Namun, di lapangan, serangan Rusia terhadap kota-kota Ukraina masih berlangsung.
Kontradiksi ini menimbulkan keraguan: apakah Rusia sungguh-sungguh ingin menuntaskan perang melalui diplomasi, atau sekadar memanfaatkan pembicaraan untuk mendapatkan konsesi tanpa menghentikan operasi militer.
Prospek: Perdamaian atau Perang Panjang?
Pertemuan di Washington menandai momentum baru diplomasi, tetapi masih jauh dari penyelesaian. Ada beberapa skenario:
Trilateral Jadi Digelar – Trump, Zelenskyy, dan Putin bertemu untuk merumuskan kerangka damai. Namun isi kesepakatan akan diperdebatkan keras, terutama terkait wilayah dan status keamanan Ukraina.
Deadlock Diplomasi – Zelenskyy menolak konsesi besar, Rusia menolak mundur, dan perang kembali pada status quo berdarah.
Kompromi Bertahap – Perundingan menghasilkan gencatan senjata terbatas atau koridor kemanusiaan, tanpa langsung menyelesaikan akar konflik.
Seperti diingatkan beberapa analis Eropa, “perdamaian cepat” bisa jadi ilusi jika tidak disertai jaminan keamanan dan kejelasan soal wilayah. Dengan kata lain, mempersiapkan perdamaian berarti juga mempersiapkan risiko perang baru.