Jakarta – Anies Baswedan mengkritik sistem pajak di Indonesia. Menurutnya, negara ini masih lebih gemar menangkap ikan-ikan kecil, masyarakat kelas menengah ke bawah, buruh, pegawai bergaji tetap, juga para pelaku UMKM ketimbang menjerat ikan besar yang sesungguhnya menyimpan harta paling melimpah.
“Teman-teman pernah mancing di danau?” tanya Anies Baswedan.
“Ikan di permukaan itu mudah tertangkap, tapi ikan yang di dasar sering lewat tanpa tersentuh pancing, tidak tersentuh jaring. Nah, sistem pajak kita juga seperti itu.”
Analogi sederhana ini langsung mengena. Siapa “ikan kecil” yang mudah ditangkap? Rakyat kecil, kelas menengah, pegawai bergaji tetap, dan para pelaku UMKM. Mereka tak punya pilihan. Gaji dipotong pajak tiap bulan, belanja harian kena PPN, rumah pun dibebani PBB yang terus naik.
Lalu siapa “ikan besar” di dasar danau? Orang-orang superkaya, korporasi raksasa, dan para pemilik harta melimpah yang piawai bersembunyi di balik celah aturan. Mereka lihai memindahkan keuntungan ke luar negeri, memanipulasi faktur, hingga menyembunyikan transaksi.
“Lubang sebenarnya itu ada di sana, bukan di slip gaji, bukan di struk belanja kita-kita semua,” tegas Anies.
Yang Patuh Justru Merasa Diperas
Anies tak berhenti pada analogi. Ia juga menyoroti rasa frustasi yang makin hari makin nyata:
“Jadi keluhan ini sangat wajar. Tidak heran jika yang patuh justru sering bertanya: ‘sudah tertib, kok malah diperas terus?’ Gaji dipotong rutin, belanja dikenai PPN, bayar PBB naik,” ujarnya.
Di sisi lain, ikan besar justru melenggang. “Mereka yang mudah dilacak di permukaan justru yang paling sering ditarikin, sementara yang bersembunyi di kedalaman lolos dari jaring.”
Kalimat itu bukan sekadar sindiran. Ia adalah tamparan bagi sistem pajak yang selama ini mengaku “adil” tapi dalam praktiknya sering berat sebelah.
Ketidakadilan yang Mahal Biayanya
Jika dibiarkan, pola ini menimbulkan dua kerugian sekaligus:
Ekonomi Melemah – Beban pajak menekan kelas menengah dan bawah, daya beli turun, konsumsi rakyat melemah. UMKM yang taat justru kalah saing dengan korporasi besar yang pintar menghindar.
Kepercayaan Rakyat Runtuh – Pajak semestinya instrumen gotong royong. Tapi kalau rakyat kecil merasa jadi korban, mereka bisa kehilangan kepercayaan. Ketidakpatuhan massal hanya tinggal menunggu waktu.
Lebih dari itu, praktik penghindaran pajak global yang dilakukan “ikan besar” telah menggerus ratusan miliar dolar penerimaan negara setiap tahunnya. Uang yang semestinya bisa membiayai sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur, justru raib ke surga pajak.
Pajak: Gotong Royong atau Sekadar Pungutan?
Pertanyaan besar pun muncul: Apakah pajak di negeri ini masih bisa disebut sebagai wujud keadilan sosial? Ataukah ia sudah berubah menjadi sekadar pungutan yang menekan yang lemah dan membiarkan yang kuat tertawa di balik kekayaannya?
Anies menutup dengan kalimat menohok:
“Di kedalaman ada ikan-ikan besar yang lolos… mereka menyembunyikan transaksi, memindahkan keuntungan ke negara lain. Itu semua dikerjakan untuk menghindari pajak. Lubang sebenarnya ada di sana.”