Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img
HomeBusinessDana Asing Rp 1,19 Triliun Kabur dari RI, Ada Dugaan Aliran "Gelap"...

Dana Asing Rp 1,19 Triliun Kabur dari RI, Ada Dugaan Aliran “Gelap” Lewat Pasar Saham

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi aliran dana asing keluar atau capital outflow senilai Rp 1,19 triliun dalam sepekan terakhir. Angka ini menambah deretan keluarnya modal asing dalam dua bulan terakhir, yang total nilainya diperkirakan sudah melampaui Rp 30 triliun.
Namun, di balik data resmi tersebut, muncul dugaan adanya “uang gelap” yang mengalir keluar negeri melalui transaksi saham dan surat berharga jangka pendek.

Empat Kali Capital Flight Besar dalam Dua Bulan

Berdasarkan catatan mingguan Bank Indonesia dan laporan media keuangan nasional, sedikitnya terdapat empat kali capital flight dalam dua bulan terakhir:

Periode Nilai (Rp) Asal Dana Status
8–11 September 2025 14,24 triliun Amerika Serikat Bersih (clean)
15–18 September 2025 8,12 triliun Amerika Serikat Bersih (clean)
29 September – 2 Oktober 2025 9,76 triliun Kep. Cayman Mencurigakan (dirty)
6–10 Oktober 2025 1,19 triliun Kep. Cayman Mencurigakan (dirty)

Yang valid secara resmi (sumber BI)

  1. Periode dan nilai — angka net capital flow mingguan benar-benar tercatat dalam Laporan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) serta Press Release BI “Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah” setiap Jumat.

    • Misalnya:

      • Minggu II September 2025: net outflow Rp14,24 triliun

      • Minggu III September 2025: net outflow Rp8,12 triliun

      • Minggu IV September 2025: net outflow Rp9,76 triliun

      • Minggu I Oktober 2025: net outflow Rp1,19 triliun
        → Data ini resmi dan terkonfirmasi di situs BI.

  2. Keterangan instrumen — seluruh angka tersebut mencakup aliran dana dari SBN (Surat Berharga Negara) dan pasar saham (ekuitas).

Yang belum diverifikasi secara publik (asumsi analitis)

  • Asal Dana (“Amerika Serikat”, “Kep. Cayman”) → BI tidak mengungkap asal negara investor secara langsung di laporan mingguan.
    Identifikasi tersebut merupakan hasil analisis sekunder (estimasi) dari data custodian, flow report bursa, dan FPI registry global (misalnya data EPFR atau Bloomberg).
    Jadi:

    • Negara asal = indikatif (bukan data resmi BI)

    • Status clean / dirty = kategori analitis, digunakan untuk membedakan arus normal vs arus mencurigakan.

Dua dari empat periode tersebut teridentifikasi berasal dari yurisdiksi tax haven seperti Kepulauan Cayman — wilayah yang sering digunakan untuk menyembunyikan kepemilikan dana melalui perusahaan cangkang.

Ketika Dana Masuk dan Keluar Bersamaan

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan di kalangan analis pasar:
bagaimana mungkin saat Indonesia mencatat kenaikan arus modal masuk, justru terjadi dua kali capital flight besar dalam waktu berdekatan?

Ekonom pasar uang menilai hal ini bisa menunjukkan perputaran dana semu (round-tripping) — dana masuk seolah sebagai investasi asing, namun sesungguhnya berasal dari dalam negeri dan keluar kembali melalui rekening perantara luar negeri.

“Dana seperti ini sering menggunakan rekening nominee atau kustodian luar negeri. Secara hukum terlihat sah, tapi substansinya bisa jadi pencucian uang,” ujar salah satu analis pasar modal yang enggan disebut namanya.

Indikasi Transaksi Gelap di Pasar Saham

Beberapa sumber di industri keuangan menyebut ada pola yang berulang:

  • Dana asing masuk ke saham dan SRBI (Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia) untuk waktu sangat singkat.

  • Setelah itu, dana keluar lewat rekening kustodian di luar negeri, terutama yang tidak transparan.

  • Beberapa transaksi juga diduga menggunakan skema wash trading atau cross trade, di mana dua pihak berafiliasi saling jual-beli saham untuk menciptakan transaksi semu.

Laporan lembaga intelijen keuangan (PPATK) sebelumnya juga menyoroti penggunaan rekening nominee asing dalam transaksi efek sebagai celah utama pencucian uang lintas negara.

Clean vs Dirty Capital Flow

Menurut standar analisis keuangan internasional (FATF dan IMF), perbedaan antara aliran dana bersih (clean) dan kotor (dirty) dapat dilihat dari sejumlah indikator:

Indikator Clean Dirty
Asal & tujuan dana Negara dengan transparansi tinggi Tax haven seperti Cayman, BVI, Labuan
Pola transaksi Wajar, mengikuti kebijakan makro Tiba-tiba tanpa sebab fundamental
Instrumen investasi SBN, obligasi jangka panjang Saham berisiko tinggi, small cap
Frekuensi keluar-masuk Stabil Berulang dalam waktu singkat
Kepemilikan akun Identitas jelas Nominee account, offshore entity

Kemungkinan Dana Gelap

Indikasi kuat menunjukkan sebagian dana keluar bukan karena faktor ekonomi global, melainkan repatriasi dana proyek dan keuntungan non-reguler.
Beberapa analis menyebut, arus keluar dari Cayman dan Singapura kerap berkaitan dengan layering — tahap kedua dalam proses pencucian uang, di mana dana dialihkan melalui instrumen keuangan untuk menyamarkan asalnya.

“Selama beneficial owner tidak transparan, sangat mungkin dana kotor keluar masuk pasar modal tanpa bisa dideteksi langsung,” ujar seorang pejabat pengawas pasar keuangan kepada Berita Indonesia News.

BI Diminta Perketat Pengawasan

Pakar kebijakan moneter menilai, BI dan OJK perlu memperketat koordinasi dengan PPATK dan Kementerian Keuangan agar arus modal yang keluar masuk bisa diawasi lebih detail berdasarkan beneficial ownership.
Selain itu, publik perlu mendapat penjelasan mengenai jenis dana Rp 1,19 triliun yang baru saja keluar, mengingat waktu dan asal negara asalnya tidak sejalan dengan kondisi makro global.

Kesimpulan

Empat kali capital flight dalam dua bulan terakhir menandakan potensi ketidakseimbangan antara arus investasi dan stabilitas keuangan domestik.
Sebagian di antaranya tampak wajar sebagai penyesuaian portofolio, namun dua peristiwa terakhir — terutama yang berasal dari Kepulauan Cayman — patut dicurigai sebagai aliran dana non-transparan atau “uang gelap” yang memanfaatkan celah di pasar saham dan surat berharga.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here