Jakarta — Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kini mulai memperlihatkan dampak positif bagi kawasan Jawa Barat. Akses antarwilayah menjadi lebih cepat, konektivitas ekonomi tumbuh, dan potensi wisata meningkat. Dalam jangka panjang, proyek ini bisa memberi nilai tambah nyata bagi aktivitas ekonomi nasional.
Namun di balik kemajuan itu, satu pertanyaan besar masih menggantung: mengapa proyek yang semula diklaim tidak menggunakan dana negara justru menimbulkan beban keuangan raksasa?
Masalahnya bukan pada manfaat Whoosh, melainkan pada cara bisnis KCIC (Kereta Cepat Indonesia China) dijalankan yang sejak awal penuh tanda tanya dan dugaan mark up.
Proyek Strategis, Tapi Penuh Kejanggalan Anggaran
Data awal menyebutkan, proyek ini semula bernilai sekitar US$ 6,07 miliar (sekitar Rp 91 triliun). Namun, dalam perjalanannya, biaya membengkak hingga lebih dari US$ 8 miliar.
Pemerintah berdalih bahwa kenaikan itu disebabkan perubahan rute, faktor teknis, dan pandemi. Tapi di lapangan, sejumlah auditor dan pengamat menemukan indikasi kuat adanya markup biaya material, konstruksi, hingga manajemen proyek.
“Dampak ekonominya bisa diterima logika, tapi cara menghitung dan menyalurkan anggarannya tidak transparan. Itu bukan investasi sehat, itu akrobat fiskal,” ujar seorang pengamat BUMN yang enggan disebutkan namanya kepada BeritaIndonesia.News.
Dari “Tanpa APBN” Jadi “Disuntik Negara”
Sejak awal, proyek ini dijual kepada publik sebagai kerja sama murni antarperusahaan Indonesia dan Tiongkok tanpa menggunakan dana APBN. Namun realitas berubah: pemerintah akhirnya ikut menanggung pembengkakan biaya dengan skema penyertaan modal negara (PMN) dan penjaminan utang.
Dengan kata lain, negara terlibat — bukan sebagai pengawas, tapi sebagai “penambal kebocoran.”
Bahkan, ada dugaan bahwa sejumlah cost component seperti pembelian lahan dan material lokal di-mark up melalui perusahaan subkontraktor tertentu. Mekanisme audit independen belum pernah dilakukan secara terbuka hingga kini.
Potensi Positif Tidak Menghapus Cara yang Salah
Tidak bisa disangkal, KCIC membawa dampak nyata bagi daerah di sepanjang jalur Jakarta–Bandung. Banyak lahan berubah fungsi produktif, aktivitas UMKM meningkat, dan daerah sekitar stasiun menjadi pusat ekonomi baru.
Namun semua itu tidak bisa dijadikan pembenaran untuk praktik bisnis yang tidak jujur.
Pakar transportasi menilai, proyek ini memang bisa menjadi simbol kemajuan, tetapi model keuangan dan manajemennya perlu dievaluasi total.
“Bukan Whoosh-nya yang salah, tapi sistemnya yang tidak sehat. Kalau dibiarkan, ini akan jadi preseden buruk untuk proyek infrastruktur nasional lain,” katanya.
Keadilan Fiskal dan Etika Bisnis Publik
Transparansi adalah kunci. Setiap proyek strategis nasional yang melibatkan dana publik, langsung maupun tidak, wajib diaudit terbuka. Masyarakat berhak tahu ke mana uang negara mengalir, berapa yang benar-benar digunakan untuk pembangunan, dan berapa yang hilang karena mark up atau salah kelola.
Sebab pada akhirnya, proyek seperti Whoosh seharusnya menjadi simbol kemajuan bangsa — bukan simbol kompromi antara kepentingan bisnis dan kekuasaan.








Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me? https://accounts.binance.info/es-MX/register?ref=GJY4VW8W
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good. https://www.binance.info/register?ref=JW3W4Y3A