Jakarta — Mantan BUMN Erick Thohir menyatakan bahwa operasional Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) mampu menghemat bahan bakar minyak (BBM) hingga Rp3,2 triliun per tahun. Klaim tersebut disampaikan pada Juli 2024 dan diulang di sejumlah kesempatan resmi, disebut sebagai bukti efisiensi energi dari moda transportasi listrik pertama di Indonesia.
Namun, hasil penelusuran dan analisis BeritaIndonesia.News menemukan bahwa klaim tersebut tidak disertai data perhitungan resmi, serta tidak masuk akal secara matematis bila dibandingkan dengan jumlah penumpang dan jarak tempuh riil.
1. Klaim tanpa dasar data terbuka
Hingga kini, tidak ada dokumen publik dari Kementerian BUMN, KCIC, atau Bappenas yang memuat rumus perhitungan penghematan BBM tersebut. Semua publikasi resmi hanya mengulang klaim nominal “Rp3,2 triliun per tahun” tanpa menyertakan asumsi seperti:
-
jumlah penumpang yang dialihkan dari moda berbahan bakar,
-
konsumsi BBM rata-rata per moda,
-
atau nilai rupiah per liter yang digunakan.
Dengan kata lain, publik hanya diminta percaya pada angka yang muncul tanpa transparansi metode.
2. Hitungan cepat menunjukkan angka janggal
Perhitungan “back-of-envelope” (ilustratif) — menunjukkan angka Rp3,2T tampak tinggi bila asumsi konservatif dipakai
Kita pakai angka publik yang sering disebut: 4.000.000 penumpang per tahun (angka bulat untuk ilustrasi) dan jarak Jakarta–Bandung 142 km.
-
Asumsi konservatif: pengganti modal transport = mobil pribadi; rata-rata mobil konsumsi ≈ 12 km per liter; rata-rata occupancy mobil ≈ 1,5 penumpang/mobil.
-
Konsumsi bahan bakar per penumpang per km = (1 / 12) ÷ 1,5 = 1/18 ≈ 0,0555556 L/km.
-
Untuk perjalanan 142 km: 142 × 0,0555556 ≈ 7,8889 L per penumpang per perjalanan.
-
Total liter yang “diselamatkan” (jika semua 4 juta penumpang tadi benar-benar menggantikan perjalanan mobil) = 4.000.000 × 7,8889 ≈ 31.555.556 L.
-
Jika harga BBM rata-rata dipakai Rp10.000/L, nilai uangnya ≈ 31.555.556 × 10.000 = Rp315.555.560.000 ≈ Rp316 miliar per tahun.
Jadi dengan asumsi di atas, penghematan BBM kira-kira Rp0,3 triliun/tahun, bukan Rp3,2 triliun.
-
-
Untuk mencapai Rp3,2 triliun (dengan harga Rp10.000/L) diperlukan penghematan bahan bakar ≈ 320.000.000 L per tahun.
-
Per penumpang (4 juta) itu berarti 80 L per penumpang → setara ≈ 0,56 L/km per penumpang untuk 142 km — yang implikasinya adalah kendaraan pengganti hanya berjalan ~1,8 km per liter (≈ sangat boros), atau asumsi lain yang tidak realistis.
-
3. Potensi misinformasi publik
Pernyataan Erick Thohir tampak dirancang untuk menonjolkan sisi efisiensi Whoosh sebagai proyek strategis nasional. Namun tanpa dukungan data teknis, klaim itu justru berpotensi menyesatkan publik dan menutupi masalah mendasar proyek: biaya pembangunan yang membengkak dan beban keuangan negara yang masih besar.
Alih-alih menghemat triliunan rupiah, kereta cepat justru masih disubsidi negara melalui PMN dan bunga utang. Dalam konteks ini, narasi “hemat BBM Rp3,2T” lebih mirip upaya pencitraan ketimbang hasil kajian ekonomi energi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kesimpulan perhitungan cepat: dengan asumsi transportasi pengganti adalah mobil pribadi dengan parameter wajar, angka Rp3,2T tampak terlalu tinggi. Agar klaim Rp3,2T valid, salah satu (atau beberapa) dari hal berikut harus benar: jumlah penumpang jauh lebih besar, asumsi modal shift berbeda (mis. menggantikan jumlah kendaraan berat / bus / rantai suplai), harga BBM yang dipakai jauh lebih tinggi, atau penghitungan memasukkan nilai eksternal (mis. nilai ekonomi waktu hemat, biaya polusi, subsidi yg dihindari, dsb.) — tetapi tidak ada dokumen publik yang menjelaskan rangkaian asumsi tersebut.








Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.