Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img
HomeBusinessJika Biaya Tak Seefisien Land Bridge Saudi, Proyek Whoosh ke Surabaya Hanya...

Jika Biaya Tak Seefisien Land Bridge Saudi, Proyek Whoosh ke Surabaya Hanya Akan Memperkaya Negosiator Negara Tekor

Opini | M.A Rahman

Jakarta – Rencana pemerintah memperpanjang proyek kereta cepat Whoosh hingga Surabaya patut dikritisi secara jernih dan rasional. Bukan karena menolak kemajuan, tetapi karena proyek infrastruktur raksasa seharusnya dibangun dengan efisiensi dan transparansi, bukan sebagai ajang pemborosan dan lobi-lobi politik yang memperkaya segelintir negosiator.

Perbandingan dengan proyek serupa di luar negeri menunjukkan betapa tidak efisiennya proyek kereta cepat Indonesia. Arab Saudi, misalnya, kini membangun Land Bridge—jalur kereta cepat sepanjang 1.500 kilometer dengan biaya Rp116 triliun. Artinya, hanya sekitar Rp77 miliar per kilometer. Sementara Whoosh Jakarta–Bandung sepanjang 142 kilometer menelan Rp113 triliun, atau Rp795 miliar per kilometer—lebih dari sepuluh kali lipat lebih mahal.

Jika efisiensi menjadi tolok ukur keberhasilan, proyek Whoosh sejauh ini gagal total. Dan memperluas proyek seperti ini tanpa pembenahan sistemik sama saja memperpanjang mata rantai inefisiensi, bahkan membuka ruang baru bagi permainan biaya dan negosiasi kontrak yang tidak berpihak pada publik.

Baca juga : https://kabarindonesia.media/2025/10/23/whoosh-10-kali-lebih-mahal-dari-land-bridge-arab-saudi-apakah-kpk-masih-perlu-cari-bukti-korupsi/

Biaya Tinggi, Manfaat Rendah

Hingga kini, proyek Whoosh belum menunjukkan manfaat ekonomi sepadan. Pendapatan dari tiket tidak mampu menutup biaya operasional dan cicilan pinjaman. Alih-alih mencetak laba, proyek ini justru masuk fase restrukturisasi utang—istilah halus untuk menunda masalah fiskal.

Rencana perpanjangan jalur ke Surabaya jelas menimbulkan pertanyaan: dari mana sumber dananya, berapa proyeksi laba riilnya, dan siapa yang menanggung jika gagal lagi? Apakah publik kembali dijadikan jaminan untuk utang baru?

Negosiator Kaya, Negara Tekor

Sejarah pembangunan infrastruktur Indonesia selalu memiliki pola berulang: proyek besar, biaya membengkak, negosiator untung, dan publik menanggung beban. Perpanjangan Whoosh dikhawatirkan menjadi episode lanjutan dari pola lama ini.
Ketika kontrak dinegosiasikan tanpa transparansi, ketika konsultan proyek ditunjuk tanpa kompetisi sehat, dan ketika angka-angka disesuaikan demi kepentingan politik, maka setiap kilometer rel bukan lagi simbol kemajuan, melainkan bukti pemborosan yang dilegalkan.

Belajar dari Arab Saudi

Saudi membangun proyek Land Bridge bukan untuk simbol politik, tapi untuk efisiensi ekonomi nasional. Pemerintahnya memastikan biaya rendah, teknologi tepat, dan integrasi dengan pelabuhan utama sebagai bagian dari strategi Vision 2030. Mereka menghitung manfaat logistik, bukan hanya kecepatan.

Bandingkan dengan Whoosh yang sejak awal lebih banyak menjual narasi prestise. Hasilnya: proyek selesai, tetapi defisit tetap membayangi.

Jika proyek ke Surabaya ingin dilanjutkan, harus ada jaminan bahwa model pembiayaannya efisien, kontraktornya bersaing secara terbuka, dan biaya per kilometer minimal sepadan dengan standar global—bukan standar negosiasi lokal.

Kesimpulan

Kereta cepat boleh menjadi kebanggaan, tapi kebanggaan tanpa efisiensi hanya membuang uang negara. Jika proyek Whoosh ke Surabaya tak bisa meniru efisiensi Land Bridge Arab Saudi, maka langkah paling bijak adalah menghentikannya sebelum menambah beban utang baru.

Negara tak butuh proyek cepat yang memperlambat fiskal.
Negara butuh pembangunan yang cerdas, bukan sekadar cepat di atas rel, tapi lambat dalam akal sehat.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here