Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img
HomeBusinessRestrukturisasi Tak Ubah Nasib Whoosh: Income Minus, Negara Tetap Tak Dapat Apa-Apa,...

Restrukturisasi Tak Ubah Nasib Whoosh: Income Minus, Negara Tetap Tak Dapat Apa-Apa, Negosiator Dapat Semua

Jakarta – Langkah pemerintah melalui PT Danantara untuk mengirim tim ke China dalam rangka negosiasi restrukturisasi utang proyek kereta cepat Whoosh menegaskan satu hal: proyek ini belum punya kaki finansial yang kokoh. Setelah bertahun-tahun diklaim sebagai simbol kemajuan transportasi nasional, realitas di balik laporan keuangan Whoosh justru menunjukkan ketimpangan mendasar—pendapatan tidak menutupi beban operasional, sementara utang terus menumpuk.
Danantara, sebagai induk holding BUMN investasi, kini menjadi ujung tombak negosiasi dengan pihak China Development Bank (CDB). Tujuannya disebut “restrukturisasi” agar pembayaran utang bisa dilonggarkan. Namun, di balik istilah teknokratis itu terselip kenyataan pahit: bahkan dengan restrukturisasi sekalipun, arus kas Whoosh tetap negatif. Artinya, negara tidak memperoleh pemasukan dari proyek ini, hanya menanggung risiko.
Sejak beroperasi, laporan tidak resmi dari lingkaran BUMN menyebutkan bahwa okupansi penumpang Whoosh masih jauh di bawah kapasitas ideal. Pendapatan tiket tidak sebanding dengan biaya listrik, perawatan jalur, bunga pinjaman, serta subsidi tersembunyi yang digelontorkan pemerintah lewat skema penyertaan modal negara (PMN). Skema yang seharusnya “business to business” justru berbalik menjadi “risk to government”.
Dalam skema awal, proyek Whoosh dibiayai lewat kombinasi pinjaman dari CDB dan kontribusi konsorsium BUMN Indonesia melalui PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Pemerintah sempat menegaskan tidak akan menanggung beban fiskal. Namun sejak pembengkakan biaya (cost overrun) yang mencapai triliunan rupiah, negara secara de facto telah menjadi penanggung akhir. Restrukturisasi kali ini bukan upaya menyelamatkan bisnis, melainkan menyelamatkan keuangan negara dari tekanan jangka pendek.
Masalah pokoknya sederhana namun mendasar: income-nya tidak ada. Berapa pun skema utang dirombak, jika pemasukan operasional tak menutupi biaya, maka restrukturisasi hanyalah penundaan krisis. Dalam terminologi fiskal, ini disebut non-revenue generating asset — aset yang tak menghasilkan penerimaan, tapi tetap menyedot biaya pemeliharaan dan bunga pinjaman.
Kondisi ini menempatkan Danantara pada posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus meyakinkan pihak China agar bersedia menunda atau menurunkan bunga pinjaman. Di sisi lain, publik menuntut transparansi: apa manfaat konkret dari proyek ini bagi ekonomi nasional, jika negara tak juga memperoleh dividen atau return?
Secara politik, langkah restrukturisasi memang bisa meredakan tekanan jangka pendek. Namun secara ekonomi, ini hanya menggeser beban ke masa depan. Setiap rupiah bunga yang ditunda hari ini, akan muncul sebagai pembayaran lebih besar di tahun-tahun mendatang. Ironisnya, tanpa kenaikan okupansi atau diversifikasi pendapatan non-tiket, beban itu akan kembali ke kas negara — bukan ke pasar.
Sementara itu, laporan internal menunjukkan bahwa rencana ekspansi Whoosh ke Surabaya hanya akan menambah beban utang baru, bukan solusi bagi struktur biaya eksisting. Dengan harga tiket tinggi dan keterbatasan jangkauan, Whoosh belum mampu bersaing dengan moda transportasi lain. Tanpa reformulasi model bisnis — seperti integrasi logistik, tarif dinamis, atau subsidi silang dari sektor lain — proyek ini berisiko menjadi monumen pemborosan.
Restrukturisasi utang ke China memang terdengar seperti langkah strategis, tapi substansinya tetap satu: tidak ada arus kas masuk ke negara. Bahkan jika Danantara berhasil menegosiasikan bunga lebih rendah, tidak ada mekanisme yang memastikan hasilnya kembali ke publik. Negara menanggung risiko, sementara pemasukan nihil.
Pada akhirnya, restrukturisasi bukanlah obat dari kegagalan ekonomi struktural. Ia hanyalah selimut yang menutupi luka fiskal lebih dalam. Whoosh tetap melaju, tapi bukan karena efisiensi atau daya saing — melainkan karena dorongan politis untuk menjaga citra pembangunan. Bagi publik, yang tersisa hanyalah pertanyaan lama: untuk siapa proyek ini dibangun, dan mengapa negara harus terus menanggung beban tanpa hasil?
buatkan versi visual infografik pendampingnya (alur dana – utang – income – beban negara) dengan gaya kartunis elegan

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here