Jakarta — Pernyataan Duta Besar China untuk Indonesia, Lu Kang, yang menyebut proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) sebagai simbol keberhasilan kerja sama kedua negara, dinilai sejumlah pengamat hanya sebagai basa-basi diplomatik yang tidak menjawab persoalan nyata yang dihadapi Indonesia.
Dalam konferensi persnya di Jakarta pekan ini, Lu Kang mengatakan bahwa proyek Whoosh adalah “bukti kemitraan strategis dan hubungan saling menguntungkan antara China dan Indonesia.” Ia juga menambahkan bahwa proyek itu “telah membawa manfaat ekonomi dan mempererat konektivitas kawasan.”
Namun, di lapangan, situasi berbeda. Proyek senilai lebih dari Rp 120 triliun itu masih menimbulkan beban besar bagi keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan belum menunjukkan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat sekitar jalur kereta.
Ekonom dan pengamat kebijakan publik, Ahmad Faizal, menilai pernyataan Dubes China itu cenderung normatif dan tidak menjawab isu substansial seperti pembengkakan biaya dan transparansi utang.
“Pernyataan itu hanya menjaga citra politik proyek Belt and Road Initiative (BRI). Tidak ada komitmen baru terkait restrukturisasi utang, transfer teknologi, atau pembagian keuntungan yang lebih adil,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (26/10/2025).
Faizal menambahkan, jika China benar ingin menunjukkan kemitraan sejajar, seharusnya ada langkah konkret untuk meringankan beban keuangan Indonesia. “Pinjaman untuk Whoosh datang dengan bunga komersial, bukan bunga lunak. Jadi tetap saja Indonesia yang menanggung risiko ekonomi,” tegasnya.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa utang proyek Whoosh tidak akan ditanggung oleh negara.
“Itu utang BUMN, bukan utang pemerintah. APBN tidak akan digunakan untuk menutup kewajiban tersebut,” katanya.
Sikap tegas itu menunjukkan upaya menjaga disiplin fiskal, namun sekaligus memperlihatkan bahwa pemerintah tidak ingin menanggung dampak finansial dari proyek yang sebagian besar dibiayai pinjaman dari China Development Bank (CDB).
Pengamat kebijakan luar negeri, Rini Astuti, menilai pernyataan Dubes China lebih dimaksudkan untuk menjaga citra hubungan bilateral menjelang forum ekonomi ASEAN–China.
“Narasi seperti ‘kemitraan sejajar’ atau ‘manfaat bersama’ adalah kalimat standar diplomasi Beijing. Tapi dalam praktiknya, posisi tawar negara penerima investasi tetap lemah,” ujarnya.
Ia menambahkan, proyek seperti Whoosh menjadi contoh dilema antara ambisi pembangunan cepat dan risiko ketergantungan finansial terhadap satu negara mitra.
Sejauh ini, manfaat proyek Whoosh bagi ekonomi lokal masih minim. Sebagian besar komponen utama dan sistem operasi masih dikendalikan oleh perusahaan asal Tiongkok, sementara pekerja Indonesia lebih banyak berperan di sektor teknis dan lapangan.
Dengan demikian, meski pernyataan Dubes China tampak penuh optimisme, isi dan maknanya justru menegaskan satu hal: hubungan ekonomi Indonesia–China masih belum sejajar.
“Kita harus realistis,” kata Faizal menutup wawancara. “Selama struktur pendanaan, teknologi, dan keuntungan masih timpang, maka semua ucapan manis itu tidak lebih dari basa-basi diplomatik.”








Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.