Jakarta — Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menerima surat menyentuh dari seorang siswa Muhammad Daffa Raasyid yang duduk di sekolah Sekolah Rakyat Menengah Pertama II Bandung Barat (SRMP II), Jawa Barat. Surat tersebut diunggah melalui akun resmi Instagram Sekretariat Kabinet pada Jumat, 24 Oktober 2025.
Dalam surat tulisannya yang dibuat pada 17 Oktober 2025, Daffa menyampaikan dua hal utama: ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas pendirian “Sekolah Rakyat” yang menurutnya membuka kesempatan bagi siswa seperti dirinya, serta selamat ulang tahun ke-74 kepada Presiden. Ia menulis:
“Terima kasih Bapak Prabowo karena telah membuat Sekolah Rakyat ini sehingga saya dan teman-teman bisa kembali merasakan bangku sekolah… Tunggu kami, ya Pak.”
Surat ini kemudian dibagikan dalam unggahan Instagram @sekretariat.kabinet bersama foto Presiden membaca surat tersebut. Dalam keterangan, disebut bahwa Daffa dari SRMP II Bandung Barat menulis surat penuh harapan dan apresiasi.
Analisis: Makna dan Implikasinya
✅ Dampak Positif
-
Surat ini menunjukkan hubungan emosional antara rakyat (khususnya generasi muda) dengan Presiden dan program pendidikan yang digulirkan pemerintah. Rasa syukur seorang siswa terhadap kesempatan pendidikan mencerminkan bahwa kebijakan seperti “Sekolah Rakyat” memiliki resonansi di masyarakat.
-
Unggahan resmi di media sosial Sekretariat Kabinet memperlihatkan bahwa pemerintah aktif melihat dan menampilkan aspirasi warga—ini bisa meningkatkan transparansi komunikatif dan memperkuat citra bahwa pemimpin “mendengar” suara rakyat.
⚠️ Catatan Kritis
-
Meskipun gambarannya positif, perhatian juga perlu diarahkan pada substansi kebijakan pendidikan: apakah pendirian “Sekolah Rakyat” benar-benar berjalan efektif di semua daerah, dan apakah fasilitas, kualitas guru, dan aksesnya memenuhi harapan siswa seperti Daffa.
-
Dari sisi komunikasi politik, unggahan semacam ini bisa menjadi alat citra, yaitu menunjukkan presiden mendapat apresiasi dari rakyat. Tanpa diikuti realitas lapangan yang nyata dan terukur, kemudian bisa dianggap sebagai symbolic politics—bukan transformasi kebijakan yang sistemik.
-
Surat siswa seperti ini juga memunculkan tekanan moral bagi pemerintahan: jika harapan generasi muda tinggi, maka kegagalan dalam sistem pendidikan (misalnya kualitas rendah, infrastruktur kurang memadai) bisa menimbulkan kekecewaan yang lebih besar di kemudian hari.
Kesimpulan
Surat yang ditulis oleh Muhammad Daffa Raasyid untuk Presiden Prabowo bukan hanya sekadar gesture personal, tetapi juga indikator sosial bahwa kebijakan pendidikan pemerintah — seperti pendirian Sekolah Rakyat — dirasakan secara langsung oleh sebagian siswa. Namun, momentum emosional ini harus dimanfaatkan bukan hanya untuk citra, tetapi untuk mendorong implementasi kebijakan yang nyata dan merata.
Singkatnya:
Apresiasi ini adalah suara rakyat yang memberi harapan; tugas pemerintahan adalah memastikan janji-pendidikan itu diterjemahkan secara nyata — bukan hanya jadi postingan media sosial.








I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.