Oleh Redaksi Ekonomi — Berita Indonesia News
Pemerintahan Prabowo mematok target pertumbuhan ekonomi 8% — angka yang di atas kertas tampak berani, bahkan nyaris mustahil dalam waktu singkat. Namun kini muncul duet baru yang dianggap mampu mendorongnya: Bahlil Lahadalia di kursi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai arsitek kebijakan fiskal dan moneter nasional.
Keduanya bukan pemain baru. Bahlil, mantan Menteri Investasi yang dikenal agresif dan lapangan, kini mengendalikan jantung pasokan energi nasional. Sedangkan Purbaya, ekonom konservatif yang efisien dalam menyalurkan likuiditas, memahami denyut APBN dan perilaku konsumsi masyarakat.
Bahlil: Dari Hilirisasi Sawit ke Ketahanan Energi
Langkah pertama Bahlil di ESDM adalah menghentikan impor solar secara bertahap.
Ia ingin mengganti ketergantungan pada impor dengan produksi biodiesel dan D100 hasil hilirisasi sawit. Data terakhir menunjukkan kapasitas produksi biodiesel nasional sudah mencapai 19,6 juta kiloliter, sementara kebutuhan solar nasional berada di kisaran 19 juta kiloliter.
Jika kilang-kilang baru di Balikpapan dan Tuban selesai tepat waktu, Indonesia memang berpotensi mandiri energi solar. Bahlil percaya substitusi impor energi ini bukan hanya soal penghematan devisa, tapi juga penggerak ekonomi baru di daerah.
Namun, ada catatan keras: selama distribusi dan logistik belum efisien, kebijakan “stop impor solar” bisa menimbulkan kekurangan pasokan dan tekanan harga industri. Dengan kata lain, keberanian Bahlil harus diimbangi kesiapan infrastruktur Pertamina dan pengawasan real-time atas pasokan.
Purbaya: Belanja Publik untuk Menggerakkan Roda Konsumsi
Sementara itu, Purbaya menekan agar pemerintah daerah dan kementerian mempercepat serapan APBN/APBD. Menurutnya, uang negara yang “mengendap” di kas pemerintah justru memperlambat sirkulasi ekonomi rakyat. Dengan mempercepat belanja, konsumsi masyarakat meningkat dan sektor riil bergerak.
Kebijakan ini terlihat sederhana, tapi dampaknya langsung ke konsumsi rumah tangga, komponen terbesar PDB. Namun, efektivitasnya bergantung pada jenis belanja. Jika dana terserap untuk proyek produktif — bukan sekadar seremonial — maka efek bergandanya besar dan tahan lama.
Duet Dua Arah: Demand Didorong, Supply Diperkuat
Inilah titik temu duet maut itu:
-
Purbaya menggerakkan demand side (permintaan domestik).
-
Bahlil memperkuat supply side (pasokan energi dan investasi).
Gabungan keduanya menciptakan siklus yang bisa mempercepat momentum ekonomi — uang beredar di masyarakat, industri tidak tersendat energi, dan investasi lokal naik. Namun tantangan nyata tetap besar: produktivitas nasional masih rendah, biaya logistik tinggi, dan ketergantungan impor barang modal belum terputus. Jika hal-hal struktural itu tak dibenahi, pertumbuhan 8% hanya akan menjadi retorika, bukan kenyataan.
Analisis: Jalan Menuju 8%
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, Indonesia membutuhkan:
1️⃣ Investasi baru minimal 35% dari PDB,
2️⃣ Produktivitas tenaga kerja tumbuh di atas 4% per tahun,
3️⃣ Reformasi industri manufaktur dan teknologi,
4️⃣ Kemandirian energi dan stabilitas fiskal.
Kebijakan Bahlil–Purbaya baru memenuhi dua prasyarat awal konsumsi dan energi. Tapi kalau duet ini mampu memaksa birokrasi bergerak, memotong rantai pemborosan APBD, dan mempercepat proyek energi strategis, maka target 8% bukan mustahil — hanya butuh disiplin dan konsistensi.
Kesimpulan
Bahlil dan Purbaya adalah dua kutub yang berbeda gaya tapi seirama visi:
yang satu keras di lapangan, yang satu teliti di meja kebijakan. Jika duet ini kompak dan mampu menjaga keseimbangan antara keberanian dan kehati-hatian, maka ekonomi Indonesia bisa benar-benar berlari — bukan sekadar berjalan di tempat.
Tapi kalau ego sektoral dan birokrasi kembali menguasai ritme, duet maut itu hanya akan menjadi legenda politik, bukan sejarah ekonomi.







