Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img

HIKMAH KE – 42 : “Manfaat ‘Uzlah dan Tafakkur untuk Pensucian Hati”

Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari berkata: مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْئٌ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ. Terjemah ringkas “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati seperti ‘uzlah (menyendiri)...
HomeNewsProyek Deforestasi Terbesar di Dunia Terjadi di Indonesia: Hutan Papua dan Kalimantan...

Proyek Deforestasi Terbesar di Dunia Terjadi di Indonesia: Hutan Papua dan Kalimantan Ditebang untuk Bioetanol, Gula, dan Pangan

Jakarta — Dunia kembali menyoroti Indonesia setelah laporan investigatif mengungkap bahwa proyek raksasa pembukaan hutan untuk produksi bioetanol, gula, dan padi telah berlangsung di Papua dan Kalimantan. Disebut sebagai proyek deforestasi terbesar di dunia saat ini, luas lahan yang dibuka diperkirakan mencapai 4,3 juta hektar—setara dengan ukuran negara Belgia.

Proyek tersebut merupakan bagian dari Food and Energy Estate, program nasional yang dicanangkan pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan energi domestik. Salah satu lokasi terbesar terletak di Merauke, Papua Selatan, dengan luas mencapai lebih dari 3 juta hektar, yang dikenal sebagai Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE).

Menurut laporan Asia-Pacific Solidarity Network dan Associated Press (AP), ribuan hektar hutan tropis yang kaya biodiversitas telah ditebang sejak awal proyek ini dimulai kembali pada 2024. Tujuan utamanya adalah menanam tebu untuk bahan bakar bioetanol serta memperluas produksi beras dan gula nasional. Namun, para aktivis lingkungan menilai proyek ini sebagai bencana ekologis dan sosial terbesar di Asia Tenggara.

“Ini bukan hanya proyek pangan — ini adalah proyek penghapusan hutan tropis,” kata Ratri Kusumastuti, peneliti lingkungan dari Forest Watch Indonesia. “Hutan Papua adalah paru-paru terakhir Indonesia. Jika hilang, kita kehilangan salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia.”

Laporan lain memperkirakan proyek ini dapat menghasilkan emisi karbon hingga 315 juta ton CO₂, atau setara dengan setengah dari total emisi tahunan Indonesia. Selain ancaman terhadap iklim global, dampak sosial juga sangat besar. Ribuan warga adat di wilayah Merauke, seperti suku Malind dan Muyu, dilaporkan kehilangan akses terhadap hutan tempat mereka berburu, berkebun, dan melakukan ritual adat.

“Kami tidak pernah diajak bicara. Hutan itu hidup kami,” ujar Yohanis Gebze, tokoh masyarakat adat di Merauke, dalam wawancara yang dikutip dari Asia-Pacific Solidarity Network.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Investasi menegaskan bahwa proyek ini adalah bagian dari strategi ketahanan pangan nasional dan akan dilakukan “dengan prinsip keberlanjutan.” Namun, sejumlah organisasi internasional, termasuk Global Forest Watch dan Rainforest Action Network, menilai klaim tersebut tidak sejalan dengan fakta lapangan.

Aktivis menilai bahwa ekspansi perkebunan untuk bioetanol dan gula bertentangan dengan komitmen Indonesia dalam perjanjian iklim Paris untuk menekan deforestasi dan emisi karbon. Selain itu, pembukaan lahan besar-besaran di Papua berpotensi mengancam spesies langka seperti kasuari, cendrawasih, dan kanguru pohon.

“Ironisnya, proyek ini justru dilakukan atas nama ‘energi hijau’,” tulis laporan investigatif MarketBeat (7 April 2025).

Pemerintah sejauh ini belum mengeluarkan laporan resmi tentang total izin pembukaan lahan yang telah disetujui, namun data satelit menunjukkan peningkatan signifikan pada area hutan yang ditebang sejak awal 2024, terutama di wilayah selatan Papua dan perbatasan Kalimantan Tengah.

Analisis:
Proyek Food and Energy Estate menyoroti dilema klasik antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Di satu sisi, pemerintah berupaya menjamin pasokan energi dan pangan nasional. Namun di sisi lain, kebijakan tersebut mengancam ekosistem penting dan hak masyarakat adat yang selama berabad-abad hidup berdampingan dengan hutan.

Penutup:
Dengan tekanan internasional yang semakin meningkat, Indonesia kini berada di persimpangan jalan antara ambisi pembangunan dan tanggung jawab ekologis. Pertanyaannya: apakah ketahanan pangan dan energi bisa dicapai tanpa menebang hutan terakhir yang tersisa?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here