BANDUNG — Peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah menjadi panggung refleksi sekaligus apresiasi bagi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang dalam pidatonya menegaskan peran besar Muhammadiyah dalam mendorong kemajuan pendidikan, kesehatan, dan sistem sosial di Indonesia. Di hadapan tokoh nasional, pimpinan Muhammadiyah, serta ribuan warga dari berbagai daerah, Dedi menyampaikan penghormatan mendalam serta menyebut Muhammadiyah sebagai contoh organisasi modern yang konsisten menampilkan keteladanan moral dan tata kelola kelembagaan.
Dedi membuka pidatonya dengan menghormati tokoh-tokoh yang hadir, termasuk Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, para menteri kabinet, Kapolri, serta seluruh jajaran keluarga besar Muhammadiyah. Ia melontarkan sejumlah humor khas Sunda untuk mencairkan suasana, sambil menegaskan bahwa peringatan milad bukan hanya seremoni, tetapi momentum memaknai perjalanan panjang organisasi yang lahir dari gagasan pemurnian dan modernisasi Islam.
Salah satu hal yang paling ditekankan Dedi adalah sifat kepemimpinan Muhammadiyah yang sederhana di tengah besarnya aset organisasi. Menurutnya, rumah sakit Muhammadiyah yang besar dan kampus-kampus yang mewah justru semakin kontras dengan perilaku pemimpinnya yang tidak berlebihan. “Pemimpin Muhammadiyah itu yayasannya besar, rumah sakitnya mewah, tapi pemimpinnya sederhana,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kreativitas panitia yang menampilkan seni, budaya, paduan suara, dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa Muhammadiyah mampu mengawinkan nilai Islam dengan estetika lokal. “Tadi saya bingung, ini milad Muhammadiyah apa pagelaran seni? Ternyata Muhammadiyah punya nilai estetika dan lokalitas yang sangat tinggi,” katanya.
Beasiswa untuk Warga Muhammadiyah
Dalam salah satu bagian terpenting pidatonya, Dedi menyampaikan pengalaman personal bahwa Universitas Muhammadiyah adalah institusi pertama yang mengundangnya mengisi acara sebelum ia menjadi gubernur. Karena itu, ia menyebut memiliki ikatan moral dengan keluarga besar Muhammadiyah.
Sebagai bentuk penghargaan, Dedi mengumumkan pemberian 40 beasiswa S1 gratis pada tahun 2026 bagi warga Muhammadiyah, dengan biaya ditanggung Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tak hanya itu, ia juga menjanjikan beasiswa hingga S2 bagi pembaca ayat suci Al-Qur’an yang tampil dalam acara milad. Sementara peserta paduan suara dan penari mendapat apresiasi uang tunai masing-masing Rp25 juta dan Rp50 juta.
Pengumuman beasiswa ini disambut tepuk tangan meriah dari hadirin.
Muhammadiyah Dinilai Meringankan Beban Negara
Dalam pidatonya yang bernuansa reflektif, Dedi menyebut Muhammadiyah sudah sejak lama menjalankan fungsi negara dalam bidang pendidikan dan kesehatan melalui rumah sakit serta ribuan lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia. “Muhammadiyah telah mengambil peran dari negara untuk mendorong agar negara memiliki beban yang ringan dalam menyelesaikan problematika bangsa,” tegasnya.
Dedi juga menilai Muhammadiyah telah menjadi pelopor modernisasi dalam manajemen organisasi. Sistem kepemimpinan yang tidak bertumpu pada figur tertentu dinilai mampu memberikan stabilitas kelembagaan. Menurutnya, hal ini seharusnya ditiru oleh para politisi dan penyelenggara negara. Ia menekankan bahwa pembangunan tidak boleh bergantung pada siapa yang memimpin maupun siapa yang duduk di legislatif atau eksekutif, tetapi harus didorong oleh kemapanan sistem.
Sorotan pada Masalah Ekonomi Rakyat Jawa Barat
Dalam bagian akhir pidatonya, Dedi menyinggung persoalan sosial yang selama ini membayangi warga Jawa Barat, terutama terkait budaya konsumtif dan jerat rentenir atau “bank emok”. Ia menyoroti fenomena masyarakat yang rela berutang demi gengsi, yang ia sebut sebagai budaya “kajenting tekor asal sohor”.
Untuk mengatasi itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka ruang layanan bagi warga yang tidak mampu membayar biaya kesehatan, pendidikan, atau terjebak utang akibat kebutuhan dasar. Langkah ini dianggap penting untuk mencegah rakyat jatuh ke tangan rentenir dan kehilangan aset bahkan kehormatan keluarga.
Dedi menegaskan bahwa negara idealnya bertanggung jawab atas empat hal: pendidikan gratis, kesehatan gratis, perumahan, dan keamanan. Dengan pemenuhan empat aspek ini, menurutnya, cita-cita kesejahteraan yang telah lama menjadi misi Muhammadiyah akan lebih mudah tercapai.
Menutup pidatonya, Dedi Mulyadi mengucapkan selamat milad dan berharap nilai keteladanan Muhammadiyah terus hidup dalam seluruh bidang kehidupan: pendidikan, kesehatan, perdagangan, hingga pertanian. Ia juga mendoakan agar semangat Nabi Muhammad menjadi cahaya yang membimbing gerakan Muhammadiyah di masa depan.








Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.