Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img
HomeCerpen“Pertemuan di Kala Turun Hujan Terakhir”

“Pertemuan di Kala Turun Hujan Terakhir”

Hujan selalu membawa kembali sesuatu yang pernah hilang.
Bagi Arga, hujan bukan sekadar air yang turun dari langit, tetapi sebuah pintu yang membuka seluruh kenangan yang ingin ia kubur dalam-dalam.

Dari kecil, ia terbiasa menghabiskan sore di halte kecil dekat taman kota. Tempat itu menjadi titik perhentian segala hal—bukan hanya bus, tetapi juga waktu. Dan sejak empat tahun lalu, halte itu berubah menjadi tempat yang paling ia hindari sekaligus paling ia cari.

Sore itu, Arga kembali berdiri di sana.

Payung orang-orang lewat, raungan sepeda motor, dan aroma tanah basah memenuhi udara. Tapi semua itu tidak mampu mengisi ruang kosong di dalam dirinya.

Ia berdiri sendirian, memandangi jalan yang dipenuhi pantulan lampu-lampu kuning pucat.

“Empat tahun,” gumamnya lirih. “Tapi rasanya masih hari kemarin.”

Empat tahun sejak perpisahan itu terjadi.
Empat tahun sejak Lara berkata bahwa ia membutuhkan waktu untuk mencari dirinya sendiri.
Empat tahun sejak hati Arga terasa seperti hancur menjadi pecahan kecil.

Ia pikir waktu akan menyembuhkan semuanya.
Nyatanya, waktu hanya membuat luka itu tumbuh akar.

Arga menarik napas panjang, mencoba menghapus ingatan-ingatan itu. Namun semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas wajah Lara muncul dalam benaknya.

Lalu, tanpa ia duga, seseorang berdiri beberapa meter di belakangnya.

Langkahnya pelan, hampir tak terdengar.
Tapi hati Arga seperti langsung mengenali.

Ia menoleh.

Dan dunia seakan berhenti.

Lara berdiri di sana—dengan payung biru muda, rambut jatuh di bahu, wajah yang sedikit lebih dewasa, dan tatapan yang sama… tatapan yang dulu membuatnya merasa pulang.

“Arga…?”

Arga tak bisa bicara. Ia membeku, seakan seluruh kemampuan tubuhnya lenyap.

Lara menurunkan payung perlahan. “Kamu masih suka datang ke sini ya?”

Arga hanya mengangguk. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia yakin Lara bisa mendengarnya.

“Kenapa kamu di sini?” suara Arga akhirnya keluar, meski sedikit bergetar.

Lara tersenyum tipis, senyum yang penuh rindu dan penyesalan.
“Aku… cuma ingin lihat tempat yang pernah jadi bagian penting hidupku.”

Arga menunduk. “Tempat ini?”, tanyanya pelan.

Lara mengangguk. “Di sini pertama kali kita bicara panjang. Di sini juga kamu pertama kali cerita tentang mimpi-mimpi kamu. Dan…” Ia menelan ludah.
“Di sini juga pertama kali kamu peluk aku.”

Arga memejamkan mata. Kenangan itu datang seperti gelombang—hangat, lembut, dan menyakitkan.

Mereka diam cukup lama, hanya suara hujan yang menjadi musiknya.

“Apa kabar kamu?” tanya Arga akhirnya.

“Aku baik,” jawab Lara. “Setidaknya… aku berusaha baik.”

Kalimat itu membuat Arga menatapnya. Mata Lara terlihat lebih letih dari sebelumnya. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, sesuatu yang ia tahan selama bertahun-tahun.

“Kamu kelihatan lelah.”

“Ya.” Lara tersenyum getir. “Banyak hal yang terjadi setelah kita… setelah aku pergi.”

Arga tak ingin mengungkit masa lalu, tapi rasa ingin tahunya terlalu besar.

“Kamu bahagia waktu itu?” tanyanya lirih.

Lara butuh beberapa detik untuk menjawab.

“Tidak,” katanya akhirnya. “Tidak seperti yang aku kira.”

Sebuah luka kecil dalam hati Arga terasa disentuh.
Ia tidak senang Lara tak bahagia, tapi ada bagian dalam dirinya yang merasa… dibenarkan.

“Kita waktu itu sama-sama takut,” lanjut Lara. “Kamu takut nggak bisa bahagiain aku. Aku takut kehilangan diriku sendiri kalau terus ikut hidup kamu yang cepat.”

Arga mengangguk. “Iya. Kita memang sama-sama salah.”

Lara tersenyum pedih. “Tapi kamu tahu apa yang paling aku sesali?”

“Apa?”

“Aku pergi sebelum kita benar-benar mencoba memperbaiki segalanya.”

Arga terdiam. Kata-kata itu seperti membuka pintu yang ia tutup rapat-rapat.

Lara menatap hujan di luar halte. “Selama empat tahun ini… aku selalu ngerasa ada yang hilang. Meskipun aku pergi untuk cari diri sendiri, aku malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.”

Arga menatapnya dalam. “Apa itu?”

“Kamu.”

Lara mengatakannya tanpa gemetar, tanpa ragu. Sebuah kejujuran yang mungkin ia tahan bertahun-tahun.

Arga tertegun. Hatinya bergetar, bukan oleh kejutan, tapi karena kata itu adalah sesuatu yang ia tunggu terlalu lama.

“Ga…” suara Lara melemah.
“Aku kangen. Kangen semua tentang kamu. Kangen cara kamu lihat dunia. Kangen cara kamu bikin aku merasa aman.”

Arga menelan ludah. “Aku juga kangen.”

“Serius?”

“Aku kangen sampai aku nggak tahu cara berhenti.”

Lara tertawa kecil, tapi air mata jatuh bersamaan. “Kamu masih sama kayak dulu.”

“Dan kamu masih orang yang sama yang aku tunggu sejak empat tahun lalu.”

Hening lagi. Tapi hening yang penuh arti—bukan kekosongan.

“Aku nggak minta kita balikan,” kata Lara. “Aku cuma mau bilang… aku masih punya perasaan itu.”

Arga menghela napas. “Aku tahu.”

“Dan aku juga tahu… kamu mungkin sudah berubah.”

Arga menggeleng. “Perasaanku tidak berubah. Yang berubah cuma cara aku menyimpannya.”

Lara mendekat sedikit. “Kalau begitu… apakah masih ada ruang buat aku?”

Arga menatap wajah Lara, yang kini begitu dekat hingga ia bisa merasakan napasnya.

“Lara,” katanya lembut.
“Kita berdua pernah gagal. Tapi gagal bukan berarti salah jalan. Mungkin cuma salah waktu.”

Lara menunduk, suaranya pelan. “Kamu masih mau jalan bareng aku?”

“Kalau kamu mau… kita mulai dari awal lagi. Tapi pelan. Tanpa ekspektasi besar. Tanpa janji muluk.”

Lara mengangguk perlahan. “Pelan aja… aku suka itu.”

Arga mengulurkan tangan.

Lara menatapnya lama, sebelum akhirnya menggenggamnya—erat, hangat, seolah ia menggenggam pulangannya sendiri.

Hujan menyelimuti kota, tetapi di dalam halte itu, dua hati yang pernah hancur memulai ulang dengan hati-hati… dengan harapan baru.

Tidak ada janji “selamanya”.
Tidak ada kepastian masa depan.

Tapi ada langkah pertama.
Dan kadang, langkah pertama itulah yang paling penting.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here