Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img
HomeCerpen“TIGA JANJI DI BAWAH POHON KENANGA”

“TIGA JANJI DI BAWAH POHON KENANGA”

Pohon Kenanga Itu Masih Berdiri

Arga selalu bilang:
“Persahabatan itu bukan soal siapa paling lama bertahan, tapi siapa yang tetap tinggal saat yang lain pergi.”

Dan kalimat itu selalu diucapkannya sambil duduk di bawah pohon kenanga besar di belakang sekolah, tempat di mana ia, Rafi, dan Nara pertama kali bersahabat.

Anehnya, persahabatan mereka justru dimulai dari perkelahian kecil kelas tujuh.

Arga—pendiam tapi keras kepala.
Rafi—bawel, jago ngomong, tapi pengecut kalau gelap.
Nara—perempuan kecil dengan rambut panjang yang bisa menghentikan dua bocah laki-laki hanya dengan satu tatapan.

Hari itu, ketika Rafi dan Arga saling dorong karena berebut bola, Nara datang sambil berdiri di tengah, memelototi keduanya.

“Kalian ribut cuma karena bola? Memalukan!” katanya.
Arga dan Rafi langsung diam.

Dan ajaibnya, sejak itu, mereka bertiga tak pernah terpisah.

Mereka membuat tiga janji di bawah pohon kenanga:

  1. Tidak saling meninggalkan.
  2. Tidak berbohong.

  3. Kalau salah satu sedih, dua lainnya harus datang tanpa banyak tanya.

Janji sederhana anak SMP yang mereka pikir mudah dipenuhi.
Sampai hidup menunjukkan bahwa waktu bisa mengubah apa pun.

Lima Tahun Kemudian

Di usia SMA, persahabatan mereka berubah bentuk.
Rafi tetap cerewet, Arga makin diam, dan Nara… menjadi alasan keduanya sering saling pandang canggung.

Bisa ditebak, keduanya menyukai Nara.

Hanya saja, Nara menyukai seseorang lain.

Dan seseorang itu bukan Arga, bukan Rafi.

Melainkan temannya sendiri—seorang penulis amatir bernama Adip.

Saat Nara mengaku, Rafi tertawa pahit, Arga hanya tersenyum samar.
Yang menyakitkan bukan karena Nara mencintai orang lain, tapi karena mereka tahu:

janji nomor dua—“tidak berbohong”—mulai retak.

Karena sejak saat itu, Arga menyembunyikan perasaannya.
Rafi menyembunyikan lukanya.
Dan Nara menyembunyikan kenyataan bahwa cintanya tak pernah terbalas.

Namun mereka masih bertemu, duduk di bawah pohon kenanga, pura-pura tidak ada yang berubah.

Pertengkaran Pertama

Hari itu hujan deras.
Nara menangis karena Adip pindah sekolah tanpa pamit.

Rafi marah.
Arga diam seperti biasa.

“Lo tuh kenapa sih, Gar?! Nara nangis, masa lo cuma diem?!”
Arga menunduk. “Gue… nggak tahu harus bilang apa.”

“Bilaaang apa? Temenin dia! Nara itu sahabat kita!”

Arga tetap diam.

Dan itu membuat Rafi meledak:

“Kadang gue mikir… lo nggak peduli sama kita.”

Itu pertama kalinya Arga meninggalkan mereka—berjalan menjauh saat hujan mengguyur tanpa menoleh.

Itu juga pertama kalinya mereka bertiga tidak bersama ketika salah satu dari mereka sedih.
Janji nomor tiga patah.

Lima Tahun Tanpa Kenanga

Setelah lulus SMA, mereka sibuk dengan hidup masing-masing.

Arga kuliah teknik dan jadi mahasiswa teladan.
Rafi bekerja di radio lokal, jadi penyiar yang terkenal.
Nara masuk dunia seni, jadi ilustrator lepas.

Mereka masih saling follow di medsos, sesekali chat ringan…
tapi tidak pernah bertemu.

Pohon kenanga itu?
Sudah jarang mereka kunjungi.
Seperti persahabatan mereka yang perlahan menguning.

Hingga sebuah pesan masuk di grup WhatsApp lama mereka.

Dari Nara:
“Kalian bisa ketemu besok di bawah pohon kenanga? Aku punya sesuatu yang penting.”

Rafi menjawab cepat:
“Siap!! Gue datang!”

Arga… mengetik lalu menghapus pesannya berkali-kali.
Akhirnya ia hanya mengetik:
“Oke.”

Pertemuan yang Berbeda

Mereka bertemu tepat pukul empat sore.

Pohon kenanga masih berdiri, meski daun-daunnya mulai rontok.
Aroma bunganya masih lembut, seperti menyimpan memori masa kecil mereka.

Nara datang sambil membawa sebuah kotak kecil berisi sepucuk surat dan tiga gantungan kunci tua yang dulu mereka buat bersama:
kenanga kecil dari kayu, dengan inisial nama masing-masing.

“Gue mau kita jujur hari ini,” kata Nara.
Rafi dan Arga saling pandang.

“Gue duluan,” Nara menarik napas.
“Gue dulu suka Adip. Tapi itu sudah lewat. Sekarang… gue cuma merasa kehilangan kalian berdua.”

Rafi tersenyum getir.
Arga menatap tanah.

“Sekarang giliran lo, Rafi,” kata Nara.

Rafi mengangkat bahu. “Gue dulu suka sama lo, Nar. Tapi itu bukan hal penting sekarang. Yang penting kita balik kayak dulu.”

Nara tersenyum.

Arga tahu giliran dia.

“Gue…” Arga tercekat.
Ini pertama kalinya ia terlihat benar-benar gugup.

“Gue dulu juga suka sama lo, Nar.”

Rafi dan Nara menatapnya, terkejut bukan karena perasaannya… tapi karena Arga akhirnya berbicara panjang.

“Tapi gue nggak bilang apa-apa karena gue nggak mau… lo menjauh. Gue takut merusak persahabatan kita.”

Untuk pertama kalinya, Arga meneteskan air mata.

Rafi terdiam.
Nara menutup mulutnya.

Dan saat itulah, Rafi mendekat, menepuk pundak Arga.

“Bro… kenapa nggak bilang dari dulu? Kita bertiga sama-sama bodoh ya.”

Nara ikut tertawa kecil sambil menangis.
“Janji nomor dua patah, ya?”

Arga mengangguk.

“Tapi hari ini kita perbaiki.”

Tiga Janji Baru di Bawah Pohon Kenanga

Mereka bertiga duduk melingkar seperti dulu.

“Aku mau kita bikin janji baru,” kata Nara.
“Bukan janji anak SMP yang gampang pecah, tapi janji orang dewasa yang sadar kalau hidup nggak selalu mulus.”

Mereka setuju.

Janji baru itu sederhana:

  1. Boleh pergi, tapi harus kembali.

  2. Boleh bohong, tapi harus jujur pada akhirnya.

  3. Boleh jatuh cinta, tapi jangan sampai kehilangan diri sendiri.

Rafi tertawa.
“Kayak peraturan hidup versi dewasa, ya?”

Nara mengangguk.
Arga tersenyum tipis—senyum yang jarang terlihat.

Dan untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu, mereka merasa tidak canggung lagi.

Persahabatan mereka bukan kembali seperti dulu…
tapi tumbuh menjadi bentuk baru.

Sebuah persahabatan yang tidak lagi memaksa untuk sempurna,
tapi menerima bahwa mereka pernah saling menyakiti—dan tetap memilih kembali.

Pohon Kenanga Tidak Pernah Pergi

Saat matahari mulai turun dan bayangan pohon kenanga memanjang, Rafi berdiri sambil berkata:

“Gimana kalau kita foto bareng? Buat kenang-kenangan.”

Arga dan Nara berdiri di sampingnya.
Mereka tersenyum ke kamera.

Dan tanpa mereka sadari, bunga kenanga jatuh pelan di bahu masing-masing.

Seolah pohon tua itu berkata:

“Kalian kembali.
Terima kasih.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here