Jakarta — Polemik lama tentang riwayat pendidikan Gibran Rakabuming Raka memasuki babak paling tajam. Melalui buku terbaru berjudul “GIBRAN END GAME — Wapres Tak Lulus SMA”, peneliti Dr. Rismon Hasiolan Sianipar memaparkan hasil kajian ilmiah yang menyimpulkan bahwa Gibran tidak pernah memiliki ijazah SMA, baik dari Indonesia maupun luar negeri. Kesimpulan ini bukan sekadar opini, tetapi diikuti metodologi akademik yang rinci—membandingkan kurikulum Singapura, Australia, hingga standar penyetaraan ijazah Kemendikdasmen.
Rismon menekankan bahwa temuan ini bukan serangan personal, melainkan tugas akademik untuk mengungkap kontroversi publik yang berlarut-larut sejak Gibran maju dalam kontestasi politik. “Kebenaran itu memang menyakitkan. Tapi kalau data dan kurikulum bicara, kita tidak boleh menutup mata,” ujarnya.
Temuan Kunci: Tidak Pernah Ada Ijazah SMA
Dalam wawancara panjang yang menjadi dasar penulisan buku tersebut, Rismon mengungkap sejumlah temuan berikut:
1. Tidak ada Ijazah SMA
Rismon menegaskan bahwa Gibran tidak memiliki ijazah SMA, baik dari Solo, Singapura, maupun Australia. Temuan ini diperkuat oleh kesaksian langsung:
“Saya tanyakan kepada Dr. Eko Susanto. Ia menjawab: Gibran tidak punya ijazah SMA dalam maupun luar negeri.”
Keterangan tersebut didengar banyak saksi, termasuk pengacara dan akademisi.
2. Rapor 3 Tahun Tidak Ada
Syarat penyetaraan ijazah SMA secara online mensyaratkan:
-
Ijazah SMA luar negeri
-
Rapor 3 tahun
Gibran hanya memiliki rapor 1 tahun dari Orchid Park Secondary School (kelas 10). Secara sistem, penyetaraan seharusnya tidak dapat diproses.
“Dalam sistem online, kalau syarat tidak lengkap, tombol ‘next’ tidak bisa diklik. Ini jelas aneh,” kata Rismon.
3. Dugaan Lompatan Birokrasi
Rismon menduga surat penyetaraan untuk Gibran—yang menyetarakan kelas 1 SMA + diploma awal UTS Insearch menjadi SMK Akuntansi—terjadi melalui jalur khusus:
“Saya menduga berkas diproses analog—langsung ke meja penandatangan, bukan lewat sistem online seperti orang lain.”
4. Tidak Pernah Ada Kasus Serupa
Ketika ditanya apakah pernah ada penyetaraan sejenis untuk individu lain, pejabat Kemendikdasmen menjawab:
“Tidak pernah. Hanya kasus ini.”
Ini menjadikan Gibran sebagai satu-satunya penerima penyetaraan ‘istimewa’.
Kajian Ilmiah: Kurikulum Tidak Bisa Disetarakan
Buku GIBRAN END GAME mengulas detail kurikulum:
• Kurikulum Orchid Park Secondary School (Singapura)
Kelas 10 = setara kelas 1 SMA Indonesia.
• Kurikulum UTS Insearch (Australia)
Program diploma = program awal perguruan tinggi, bukan SMA.
• Kurikulum SMK Indonesia
Fokus: vokasional & siap kerja.
Rismon menyimpulkan:
“Tidak mungkin kurikulum akademik foundation/diploma dipaksa setara dengan SMK Akuntansi. Secara ilmiah tidak matching sama sekali.”
Klaim “Undeniable” — Tidak Bisa Dibantah
Rismon berulang kali menyebut bahwa temuan ini undeniable, tidak bisa disanggah, kecuali Gibran dapat menunjukkan:
-
Ijazah SMA, atau
-
High School Leaving Certificate singapura, atau
-
Jejak digital resmi penyetaraan online
Hingga kini, tidak ada satu pun dokumen itu yang muncul.
Dukungan Akademisi: “Matematika Tidak Pernah Berbohong”
Sejumlah akademisi memberikan dukungan terhadap kajian ilmiah Rismon, antara lain:
-
Prof. Tono Saksono
-
Dr. Ridho Rahmadi
-
Beberapa akademisi ITB, UI, dan peneliti digital image processing
Mereka menilai metodologi buku tersebut valid, terukur, dan berbasis standar akademik internasional.
Rismon Tidak Mundur: “Semakin Ditekan, Semakin Saya Menulis”
Rismon saat ini berstatus tersangka dalam kasus terpisah terkait ijazah Presiden Jokowi. Namun ia menyebut itu tidak menghalangi langkah penelitiannya.
“Menjadi tersangka bukan kriminal, tapi kebanggaan ilmiah. Itu artinya saya menyentuh sesuatu yang sensitif.”
Ia mengaku menyiapkan:
-
Cetak 10.000 eksemplar buku
-
Dokumenter investigatif
-
Kajian kasus KM50
-
Penelitian kasus Vina Cirebon
Tantangan Terbuka untuk Pemerintah dan Gibran
Rismon menantang:
-
Kemendikdasmen
-
Pakar kurikulum
-
Pihak Istana
-
Gibran sendiri
Untuk seminar terbuka, membahas kurikulum SMA, SMK, dan diploma Australia.
“Kalau saya salah, tunjukkan ijazah SMA-nya. Atau jelaskan secara akademik bagaimana kelas 10 + diploma bisa disetarakan menjadi SMK. Selesai.”
Hingga kini, tidak ada bantahan ilmiah yang masuk.
Arah Baru Polemik Pendidikan Sang Wapres
Buku GIBRAN END GAME menjadi titik balik penting dalam perdebatan legalitas dan integritas penyetaraan ijazah Gibran.
Rismon menutup:
“Saya hanya menyudahi misteri. Publik berhak tahu. Kalau benar, jelaskan. Kalau salah, tunjukkan bukti. Negara ini harus terbuka, bukan dibungkam.”







