Oleh: Reporter Khusus BI News
Sumatera Utara — 26 November 2025
Malam Ketika Langit Robek
Tidak ada yang menyangka bahwa hujan yang turun sejak Selasa sore akan berubah menjadi mimpi buruk paling kelam bagi empat kabupaten di Sumatera Utara. Ketika sebagian warga Sibolga menutup kios, sebagian lainnya beranjak tidur, langit perlahan-lahan seperti retak dan menumpahkan seluruh isinya.
Hujan turun tanpa jeda, keras, menekan atap seng, melubangi fondasi tanah, dan membuat sungai-sungai kecil meluap dalam sekejap. Dalam hitungan jam, air yang biasanya mengalir tenang berubah menjadi “tembok gelap”—bahasa warga untuk menggambarkan banjir bandang yang menyapu segala yang dilewatinya.
Tengah malam, material longsor besar turun dari lereng bukit, mengubur rumah-rumah warga, membungkam teriakan, dan memutus akses jalan di beberapa kecamatan. Air bah menghantam permukiman Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan serentak, memukul provinsi ini seperti pukulan tanpa aba-aba.
Ketika fajar datang, Sumatera Utara berubah menjadi wilayah luka yang besar.
Korban Jiwa Terus Bertambah: 17 Tewas, 6 Hilang, 58 Luka-Luka
Data yang dihimpun Reporter Khusus BI News dari BNPB, BPBD, serta laporan lapangan menunjukkan bahwa bencana kali ini termasuk yang paling mematikan di Sumatera Utara dalam beberapa tahun terakhir.
Korban terbaru per 26 November 2025:
-
17 orang meninggal dunia
-
6 orang hilang
-
58 orang luka-luka
-
Ribuan rumah terdampak
-
Puluhan rumah hancur total
-
Jembatan dan ruas jalan terputus
-
Ratusan kepala keluarga mengungsi
Di sebuah desa di Tapanuli Tengah, seorang ibu bersama dua anaknya ditemukan meninggal dunia tertimbun tanah setelah rumah mereka runtuh diterjang longsor saat mereka sedang tidur. Di Sibolga, tiga rumah terseret ke laut, hanya menyisakan pondasi yang retak dan serpihan kayu yang bercampur lumpur.
Seorang warga di Taput menangis ketika jenazah ayahnya ditemukan hanyut sejauh 1,2 kilometer. “Kami tidak mendengar apa pun—hanya suara gemuruh. Setelah itu semuanya gelap,” ujarnya.
Di Tapanuli Selatan, seorang balita dinyatakan hilang setelah terpisah dari orang tuanya ketika arus banjir merobohkan dinding rumah. Upaya pencarian masih berlangsung namun terkendala material kayu dan lumpur yang tebal. Kemungkinan besar korban akan bertambah.
Empat Kabupaten Paling Parah: Sibolga, Tapteng, Taput, Tapsel
1. Sibolga — Banjir Bandang Menyapu ke Laut
Sibolga mengalami banjir bandang terdahsyat dalam lima tahun terakhir. Air yang turun dari Bukit Ketapang mengalir seperti gelombang tinggi, menghantam 4 kelurahan:
-
Hutabarangan
-
Pancuran Kerambil
-
Aek Manis
-
Aek Muara Pinang
Di beberapa titik, banjir membawa batu-batu seukuran mobil kecil. Rumah-rumah yang berada dekat aliran sungai kecil ambruk seketika. Sebanyak ratusan rumah terendam, puluhan di antaranya hanyut hingga ke bibir laut.
Seorang warga, Marpaung (47), menyebut:
“Kami hanya punya waktu 2 menit lari. Air datang seperti hitam, bising. Tembok roboh, barang hilang semua.”
2. Tapanuli Tengah — Longsor Memutus Akses dan Mengisolasi Warga
Di Tapanuli Tengah, bencana kali ini benar-benar melumpuhkan mobilitas masyarakat.
-
2 jembatan utama roboh
-
3 kecamatan terisolasi
-
Puluhan kendaraan terseret arus
Longsor terbesar terjadi di Kecamatan Sorkam. Material tanah, batu, dan batang kayu menutup jalan sepanjang 80 meter. Tim evakuasi membutuhkan alat berat, tetapi hujan intens membuat alat tidak bisa dioperasikan selama lebih dari 10 jam.
Sementara itu, warga di Kecamatan Barus harus tinggal di masjid dan sekolah karena rumah mereka tidak bisa diakses.
3. Tapanuli Utara — Empat Desa Terisolasi, Sekolah Rusak
Taput tidak kalah parah. Hujan intens memicu longsor di empat desa:
-
Siarang-arang
-
Situmeang
-
Sipahutar
-
Sigotom
Akses menuju Tarutung–Sipahutar sempat tertutup total oleh longsor sepanjang 50 meter. Seorang guru SD di Sipahutar ditemukan hanyut sejauh lebih dari satu kilometer setelah rumah dinasnya diterjang arus deras.
Satu bangunan SD di Kecamatan Siarang-arang mengalami kerusakan berat setelah tembok belakangnya jebol diterjang air.
4. Tapanuli Selatan — Ratusan Rumah Terendam, Warga Mengungsi Massal
Di Tapsel, air setinggi pinggang merendam lebih dari 200 rumah. Ratusan warga mengungsi ke gedung sekolah dasar yang dijadikan posko darurat.
“Anak-anak kedinginan. Kami butuh selimut dan air bersih,” ujar seorang ibu yang sudah dua malam tidur di lantai sekolah.
BPBD telah mendirikan dapur umum, namun distribusi logistik terhambat tanah longsor di ruas jalan utama.
Penyebab Utama: Gabungan Badai Tropis KOTO, Bibit Siklon 95B, dan Cuaca Ekstrem
BMKG menyampaikan bahwa banjir dan longsor kali ini bukan sekadar akibat hujan biasa. Ada beberapa faktor besar:
1. Siklon Tropis KOTO
Terbentuk di Samudera Hindia barat Sumatra, membawa suplai uap air besar dan menimbulkan hujan ekstrem selama berjam-jam.
2. Bibit Siklon 95B
Mendekati wilayah perairan barat Indonesia, mengakibatkan peningkatan pertumbuhan awan badai.
3. Awan Konvektif
Awan-awan besar bertumpuk dan terus menyedot uap air, mempertebal intensitas hujan tanpa henti.
4. Kerentanan Lahan
Lereng-lereng di Taput dan Tapteng yang kehilangan vegetasi kuat memperburuk risiko longsor.
BMKG memperingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem berpotensi berlangsung hingga 27 November 2025.
Kerusakan Infrastruktur: Jalan Putus, Jembatan Runtuh, Jaringan Telekomunikasi Lumpuh
Jalan & Jembatan
-
7 jalan kabupaten terkena longsor
-
2 jembatan roboh total
-
4 akses antar desa terputus
Hal ini membuat pengiriman bantuan terhambat dan mobilitas warga lumpuh.
Listrik
PLN mengonfirmasi adanya jaringan rusak di 14 titik, terutama di area longsor. Pemulihan membutuhkan waktu yang tidak pasti.
Telekomunikasi
Telkomsel melaporkan beberapa BTS (Base Transceiver Station) terdampak:
-
Kabel optik putus
-
Tiang roboh
-
Sinyal hilang di beberapa desa
Kondisi ini membuat komunikasi warga terganggu dan menyulitkan relawan melakukan koordinasi.
Situasi Pengungsi: Minim Perlengkapan, Kedinginan, Krisis Air Bersih
Reporter kami di posko pengungsian mencatat:
-
Air bersih sangat terbatas
-
Selimut kurang
-
Makanan siap saji terbatas
-
Obat-obatan darurat habis cepat
-
Banyak anak-anak sakit flu & diare
-
Lansia kesulitan mendapatkan obat rutin
Suasana posko sangat penuh. Banyak warga tidur beralas kardus atau tikar plastik.
“Kami belum mandi sejak kemarin. Air tidak ada. Kami hanya minum air galon yang dibawa relawan,” kata seorang warga.
Respons Pemerintah: Evakuasi, Logistik, dan Pembersihan Longsor
BPBD & BNPB
-
Mengirim 200 lebih personel
-
Mengoperasikan alat berat
-
Mendirikan posko di 4 kabupaten
-
Melakukan evakuasi rumah ke rumah
BMKG
-
Mengeluarkan peringatan dini setiap 3 jam
-
Memantau pola angin dan curah hujan
TNI/Polri
-
Mengevakuasi warga yang terjebak
-
Membantu pembersihan material
-
Menjaga keamanan di lokasi rawan
Telkomsel & PLN
-
Memperbaiki BTS rusak
-
Menormalisasi jaringan listrik
Namun kondisi medan membuat proses pemulihan berjalan lambat.
Analisis: Bencana Iklim + Infrastruktur Lemah = Kombinasi Mematikan
Bencana ini menunjukkan tiga hal krusial:
1. Cuaca Ekstrem Kini Lebih Sering
Sumatera Utara rentan terhadap badai tropis di Samudera Hindia. Perubahan iklim membuat intensitas hujan kian ekstrem.
2. Penataan Ruang Buruk
Pemukiman dekat aliran sungai tanpa perlindungan, pemotongan bukit, dan minimnya vegetasi memperburuk risiko longsor.
3. Akses Darurat Terbatas
Banyak daerah tidak memiliki jalur evakuasi memadai. Saat bencana terjadi serentak, kemampuan tanggap darurat kewalahan.
Suara Warga: “Kami Tidak Pernah Dididik untuk Siaga”
Reporter kami banyak menerima keluhan warga:
-
Tidak ada simulasi evakuasi
-
Minim alat deteksi banjir
-
Tidak ada jalur evakuasi jelas
-
Alarm peringatan dini tidak terdengar
Salah satu warga mengatakan:
“Kami tidak tahu harus ke mana. Semua gelap. Tidak ada sirine, tidak ada pemberitahuan.”
Ini menunjukkan lemahnya sistem mitigasi di tingkat kabupaten.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?
1. Infrastruktur Tahan Bencana
Jembatan dan jalan harus dibangun dengan standar bencana, bukan sekadar standar minimal.
2. Sistem Peringatan Dini
Sirine, alarm, dan aplikasi peringatan harus aktif, terintegrasi, dan mudah diakses.
3. Edukasi Warga
Masyarakat harus mengetahui jalur evakuasi dan titik aman.
4. Penegakan Penataan Ruang
Rumah di lereng harus dipetakan ulang dan direlokasi jika berisiko tinggi.
Penutup: Luka Sumatera Utara dan Tanggung Jawab Kita Bersama
Banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara bukan sekadar bencana alam. Ini adalah peringatan keras bahwa provinsi ini harus meningkatkan ketahanan bencana.
Warga yang hidup di wilayah lereng dan aliran sungai kini harus menata ulang hidup mereka. Pemerintah harus memperkuat sistem mitigasi. Relawan harus bergerak cepat.
Dan kita semua harus belajar bahwa cuaca ekstrem bukan lagi peristiwa jarang. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan baru.
Sumatera Utara berduka — tetapi juga bangkit.
Dan BI News akan terus berada di lapangan, mengabarkan setiap perkembangan untuk Anda.







