Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img
HomeCerpenBayangmu dalam Nuansa Bening

Bayangmu dalam Nuansa Bening

Pagi itu, laut tampak seperti lembar kaca raksasa yang baru saja dibersihkan hujan malam. Langit masih malu-malu membuka warna biru, dan garis cakrawala terlihat begitu tipis seolah seseorang menarik satu garis lurus dengan pensil halus. Angin asin menyapu pelan wajahku, membawa aroma laut yang mengingatkanku pada satu nama yang sudah lama tak kusebut keras-keras: Raina.

Aku duduk di atas beton dingin dermaga, menatap permukaan air yang memantulkan warna pucat mentari. Di hadapanku, dunia seperti membisu. Hanya debur kecil ombak, suara camar yang sesekali berputar di kejauhan, dan langkah-langkah sepatu orang-orang yang lewat tanpa benar-benar kuperhatikan. Di layar ponselku, lagu yang dulu sering kami putar bersama mengalun pelan lewat earphone, mengisi ruang antara kenangan dan kenyataan.

“Nuansa bening,” begitu dulu Raina menyebut momen seperti ini—ketika dunia sepi, hati tenang, tapi pikiran justru paling ramai.

Dulu, sebelum semua terasa rumit, Raina cuma seseorang yang lewat di hidupku seperti bayangan tipis di trotoar: kelihatan, tapi tak kupedulikan.


Aku pertama kali bertemu Raina di sebuah kafe kecil dekat kampus. Bukan pertemuan dramatis seperti di film-film; tak ada buku terjatuh, tak ada cangkir kopi pecah, tak ada tatapan yang membuat waktu berhenti. Waktu itu aku hanya sedang menunggu giliran pesan ketika dia masuk, membawa ransel besar yang tampak hampir seberat tubuhnya sendiri.

Dia lewat di belakangku, menyapa barista dengan suara datar tapi sopan, lalu duduk di sudut kafe yang menghadap ke jendela. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya tanpa riasan mencolok, dan pakaiannya… biasa saja. Sweater abu-abu, jeans biru pudar, sepatu kets putih yang sudah sedikit kotor. Kalau harus jujur, mataku tak tertarik lama-lama menatapnya.

Kota ini penuh sosok lebih mencolok: orang-orang dengan pakaian modis, gaya bicara yang meyakinkan, tawa yang memenuhi ruangan. Raina, di sisi lain, seperti titik koma di antara kalimat-kalimat besar: kecil, tak mencolok, tapi tetap punya tempat.

Kami berkenalan beberapa minggu kemudian, bukan di kafe, melainkan di kelas mata kuliah Komunikasi Antarbudaya. Dosen meminta kami membentuk kelompok kecil untuk proyek akhir, dan takdir—atau mungkin sekadar daftar absen—menjatuhkan namanya tepat di bawah namaku.

“Jadi, kita satu kelompok ya,” ujarku ketika dosen selesai membacakan pembagian.

Raina mengangkat kepala dari catatannya. Dia tersenyum singkat, senyum yang seolah terburu-buru tapi tidak dipaksakan. “Oh, iya. Aku Raina,” katanya sambil mengulurkan tangan.

Aku menjabatnya. Tidak ada petir menyambar. Tidak ada degup jantung memburu. Jemarinya hangat, tapi sensasi itu pun berlalu seperti angin yang lewat di sela-sela pintu. Dalam hati, aku hanya berpikir: ya, biasa saja.


Masa perkenalan berjalan pelan, seperti lagu tanpa intro panjang—tiba-tiba saja sudah masuk ke bagian isi, tanpa perlu kejutan.

Raina bukan tipe orang yang langsung memenuhi ruang dengan keberadaannya. Dia lebih banyak mendengar, menyimak, lalu melontarkan komentar seperlunya. Tapi ada sesuatu dalam caranya bercerita yang berbeda: ia tidak berusaha terdengar hebat, tidak berusaha menjadi pusat perhatian. Ceritanya tentang hal-hal yang wajar—perjalanan naik angkot yang penuh sesak, dosen yang selalu datang terlambat, anak kucing yang tiba-tiba muncul di depan kosnya.

“Jadi, kamu rawat itu kucing?” tanyaku waktu itu sambil menandai beberapa bagian di buku referensi kami.

Raina menggeleng, lalu tertawa kecil. “Nggak, dia kayak makhluk independen gitu. Datang kalau lapar, pergi kalau kenyang. Kayak sebagian orang di dunia ini,” jawabnya, tanpa maksud menyindir siapa pun, tapi entah kenapa aku merasa kalimatnya menyentuh lebih dalam.

Dari obrolan-obrolan kecil itu, aku mulai menyadari sesuatu: yang menarik dari Raina bukan apa yang tampak, melainkan bagaimana cara dia memandang hal-hal yang biasa. Dia bisa bercerita tentang hujan yang turun tiba-tiba seperti sedang membicarakan suatu peristiwa penting. Dia bisa menjelaskan betapa sukanya ia pada pagi hari, hanya karena langit belum terlalu ramai warna dan suara. Ia mengomentari hal-hal kecil yang sering kupikir tidak perlu diperhatikan.

Lama-lama, cerita-ceritanya menempel di kepalaku. Mengganggu, tapi dalam arti yang anehnya menyenangkan.


“Menurut kamu, pantai lebih indah pagi atau sore?” tanya Raina suatu hari, tanpa konteks apa pun.

Kami sedang duduk di bangku taman kampus, menunggu dosen yang lagi-lagi terlambat. Angin sore menggeser-geser daun, meninggalkan suara gesekan lembut.

“Sore,” jawabku cepat. “Matahari terbenam, warna langit dramatis, bisa bikin foto bagus.”

Raina terkekeh. “Jadi ukuran indah buat kamu itu kalau bisa difoto?”

Aku mengangkat bahu. “Nggak juga. Tapi matahari terbenam itu… ya, semua orang suka. Romantis gitu.”

“Kalau aku,” katanya pelan, menatap ke arah langit yang masih terang, “lebih suka pagi di pantai. Masih sepi. Langitnya belum ramai warna. Semuanya kayak… bening. Kamu cuma denger suara ombak sama angin. Kayak dunia baru belajar bersuara.”

Aku menoleh. Ada sesuatu di matanya saat ia mengucapkan kata “bening”. Bukan berbinar lebay, tapi jernih. Sejernih permukaan air yang tenang sebelum dilempar batu.

“Nanti kalau sempat, aku mau ke pantai pas pagi,” lanjutnya. “Bukan buat foto. Buat duduk aja, dengerin apa yang nggak kelihatan.”

Aku tidak benar-benar mengerti maksudnya waktu itu. Tapi kalimat itu, entah bagaimana, tersimpan rapi di kepalaku.


Semakin lama kami mengerjakan proyek kelompok, semakin sering pula kami menghabiskan waktu bersama. Awalnya sebatas membahas tugas, mencari referensi di perpustakaan, atau bertukar pesan mengenai jadwal presentasi. Lambat laun, obrolan melebar ke hal-hal di luar kampus: keluarga, mimpi, ketakutan masing-masing.

“Kadang aku takut kalau ternyata aku nggak cukup berani buat mengejar apa yang aku mau,” kata Raina suatu malam lewat pesan singkat.

Aku memandang layar ponsel beberapa detik. Jemariku menggantung di atas keyboard virtual, ragu ingin menjawab dengan kalimat biasa atau mencoba jujur.

“Kamu mau apa, sebenarnya?” balasku akhirnya.

“Sederhana kok,” tulisnya. “Aku cuma pengen hidup yang tenang, bisa kerja di bidang yang aku suka, punya waktu buat diri sendiri, dan… punya seseorang yang bisa diajak ngomong apa aja tanpa takut dihakimi.”

Aku terdiam. Di kamar yang hanya diterangi lampu meja belajar, ponsel di tanganku seperti tiba-tiba jadi lebih berat.

“Kayaknya semua orang mau itu deh,” balasku. “Termasuk aku.”

Balasannya muncul beberapa detik kemudian: emotikon wajah tersenyum miring, lalu, “Berarti kita normal, ya.”

Malam itu, kami terus mengobrol sampai lewat tengah malam. Tak ada pengakuan apa-apa. Tak ada gombalan murahan. Hanya dua orang yang semakin lama semakin terbiasa berbagi ruang dalam percakapan.

Aku masih merasa semua ini… biasa saja. Atau mungkin aku yang pura-pura menganggapnya biasa?


Sampai suatu hari, jarak membuatku sadar bahwa yang “biasa” itu ternyata tidak biasa sama sekali.

Itu bermula ketika Raina mengabarkan bahwa dia diterima magang di sebuah lembaga riset di kota pesisir, ratusan kilometer dari kota kami sekarang.

“Serius?” tanyaku di telepon, mencoba menyembunyikan rasa kaget. “Keren dong! Tapi kok jauh banget?”

Suara di seberang sana terdengar berusaha ceria. “Iya, jauh. Tapi ini kesempatan bagus. Mereka memang fokus di bidang yang aku minati. Lagian cuma tiga bulan.”

“Tiga bulan itu lama, Rain.”

“Lama kalau dihitung, cepat kalau dijalanin,” jawabnya. “Katanya kamu suka logika, masa nggak bisa logis dikit?”

Aku tertawa, tapi ada sembilu kecil yang entah kenapa menusuk di dada. Tiga bulan. Selama ini, kami hampir tiap hari bertemu, atau setidaknya bertukar pesan. Sekarang, tiba-tiba ada jeda panjang yang belum pernah kami jalani.

“Kamu bakal sering ke pantai, dong,” kataku, mencoba mencairkan suasana. “Pagi-pagi, sendirian, dengerin dunia yang baru belajar bersuara.”

Raina terdiam sejenak. “Kamu ingat, ya?”

“Tentu,” jawabku singkat, padahal dalam hati aku ingin berkata: aku ingat lebih banyak dari yang kamu kira.

“Kalau gitu, nanti aku kirim foto matahari di pantai waktu pagi buat kamu. Bukan buat pamer, cuma… semacam salam.”


Hari keberangkatannya, aku datang ke stasiun. Bukan karena diminta, tapi karena rasanya ada yang salah kalau aku tidak ada di sana.

Raina berdiri dengan ransel besarnya lagi, kali ini ditemani koper kecil. Wajahnya terlihat sedikit lelah, mungkin karena semalam packing, mungkin karena menahan gugup.

“Kamu beneran nggak apa-apa?” tanyaku.

Dia mengangguk. “Aku pengen coba lihat hidup di tempat lain. Katanya, kalau kita jauh, kita bisa lihat diri kita sendiri lebih jelas. Katanya, lho.”

Aku menatap wajahnya yang diterpa cahaya pagi dari sela-sela atap stasiun. Tetap… biasa saja, katanya dulu hatiku. Tidak ada yang terlalu mencolok. Tapi kenapa sekarang rasanya sulit menarik pandangan?

Ketika kereta akan berangkat, kami berdiri berhadapan. Tak ada pelukan dramatis. Hanya lagi-lagi, jabatan tangan.

“Jaga diri, ya,” ucapku.

“Jaga dirimu juga,” balasnya, menggenggam tanganku sedikit lebih erat dari biasanya. “Kalau kamu sempat ke pantai, lihat pagi di sana. Kalau kamu denger sesuatu, mungkin itu… salam dari aku.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku hanya mengangguk. Lalu dia naik, dan kereta membawa tubuhnya menjauh, meninggalkan sebuah ruang kosong yang tak langsung kuakui keberadaannya.


Hari-hari setelah kepergiannya terasa aneh. Kampus tetap ramai, tugas tetap menumpuk, kafe tempat kami biasa bertemu tetap menyajikan kopi yang sama. Tapi ada satu frekuensi yang hilang dari keseharianku.

Tak ada lagi pesan singkat tengah malam yang tiba-tiba bertanya, “Menurutmu, apa arti pulang?” atau “Kalau kamu bisa hilang sehari, kamu mau hilang ke mana?” Tak ada lagi tawa kecil di ujung kalimat ketika ia mengomentari hal-hal sepele.

Kami masih berkomunikasi, tentu saja. Tapi sekarang lewat jarak. Lewat layar. Lewat sinyal yang kadang putus nyambung.

Dia mengirimkan foto-foto pantai pagi hari, seperti janjinya. Langit pucat, ombak pelan, garis pasir panjang tanpa jejak. Di salah satu foto, ada siluet seseorang duduk di batu besar, membelakangi kamera. Mungkin itu dirinya sendiri. Mungkin orang lain. Dia tidak menjelaskan.

“Ini nuansa bening versiku,” tulisnya di caption. “Kadang aku duduk di sini sambil denger lagu kesukaan kita.”

Aku menatap foto itu lama. Di sela-sela kesibukan, aku menyadari sesuatu yang selama ini mungkin sengaja kuabaikan: ketidakhadirannya membuat banyak hal terasa kurang lengkap.

Kelas yang biasanya penuh komentar cerdasnya kini hanya diisi suara dosen dan beberapa teman yang bicara secukupnya. Bangku taman kampus, tempat kami sering mengobrol, sekarang hanya jadi tempat singgah sementara orang-orang yang menunggu jam masuk. Kafe yang dulu terasa hangat, kini hanya jadi tempat yang menjual minuman dan Wi-Fi.

Semakin jauh ia secara fisik, semakin dekat bayangannya menghuni pikiranku. Kalimat-kalimatnya terulang di kepala, tawa kecilnya seperti terpantul di dinding kamar. Rasa rinduku bukan seperti rindu dramatis yang meledak-ledak; lebih seperti gerimis yang pelan-pelan membasahi jalanan sampai akhirnya tergenang tanpa terasa.

Suatu malam, aku duduk sendirian di kamar dengan lampu redup, memutar lagu yang dulu sering kami dengar bersama. Di tengah alunan musik itu, aku mendadak sadar: aku tidak lagi bisa menyebut semua ini “biasa saja”.


“Aku takut,” tulisku suatu malam.

Hening sebentar, lalu balasannya muncul. “Takut apa?”

“Takut kalau perasaan ini cuma muncul karena kamu jauh.”

Beberapa menit tak ada jawaban. Aku menatap layar ponsel, menimbang apakah aku harus menghapus kalimat terakhir itu, pura-pura salah kirim. Tapi sebelum sempat kulakukan, notifikasi muncul lagi.

“Perasaan yang mana?” tanya Raina.

Kupandangi pertanyaan itu lama. Jariku sempat ragu menari di atas keyboard. Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang tak ingin mundur lagi.

“Perasaan kalau… kamu bukan lagi sekadar teman ngobrol. Bukan lagi cuma partner tugas. Bukan lagi cuma orang yang cerita-ceritanya menghibur hari-hariku. Kamu… lebih dari itu,” tulisku, lalu kukirim sebelum keberanian itu hilang.

Dadaku berdebar tidak karuan menunggu balasannya. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Ketika akhirnya pesan masuk, aku hampir takut membacanya.

“Kalau aku jujur,” tulis Raina pelan, “perasaan itu sudah lama ada di sini. Bahkan sebelum aku pergi. Tapi aku tipe orang yang takut kalau perasaan merusak hal yang sudah nyaman. Jadi aku diam.”

Ada jeda lagi, lalu pesan berikutnya datang.

“Dan aku juga takut,” lanjutnya. “Takut kalau kamu baru merasa seperti itu sekarang karena jarak bikin semuanya dramatis. Kalau nanti aku pulang dan kamu merasa semuanya… kembali biasa saja.”

Aku menarik napas panjang. Kupikirkan kata-katanya, kurasakan kebenaran yang tersembunyi di baliknya. Jarak memang punya kebiasaan buruk memperindah sesuatu yang jauh, membuatnya terlihat lebih berkilau daripada saat berada di depan mata.

“Tapi mungkin,” balasku, “jarak juga kadang membuat kita sadar mana yang harusnya nggak pernah kita anggap biasa.”

Di ujung sana, entah berapa ratus kilometer dari tempatku duduk, Raina mungkin sedang menatap layar ponselnya seperti aku menatap milikku sekarang. Aku membayangkan ia duduk di dekat jendela, dengan suara ombak sebagai latar belakang.

“Kita nggak usah buru-buru kasih nama buat perasaan ini,” tulisnya. “Biar dia jalan dulu. Kalau setelah aku pulang, kamu masih merasa hal yang sama… mungkin itu jawabannya.”

Aku tersenyum kecil. Ada lega yang hangat menjalar, meski belum sepenuhnya menenangkan.

“Deal,” jawabku. “Sampai saat itu, aku akan menjaga apa yang kamu tanam di sini,” kububuhi emotikon hati kecil, sesuatu yang biasanya tidak pernah kulakukan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kepergiannya, aku tertidur tanpa gelisah.


Tiga bulan ternyata bisa terasa seperti tiga tahun ketika kita menunggui sesuatu. Tapi juga bisa terasa seperti tiga hari ketika kita sibuk menjalaninya.

Raina semakin tenggelam dalam pekerjaannya. Aku semakin sibuk dengan tugas akhir dan persiapan skripsi. Kami tak lagi tiap hari mengobrol panjang, tapi selalu ada pesan singkat yang mampir, entah sekadar mengirim foto langit pagi, gambar kucing liar yang ditemuinya di jalan, atau kalimat pendek: “Hari ini capek. Tapi aku baik-baik saja.”

Dan setiap kali aku membaca kalimat itu, aku merasa aneh: seolah ada bagian diriku yang ikut sedikit lebih kuat.

Hingga suatu hari, ia mengirim pesan singkat yang berbeda.

“Aku pulang minggu depan,” tulisnya. “Kerjaanku di sini selesai. Pantai pagi bakal kangen sama aku.”

Aku menatap kalimat itu berkali-kali. Rasanya seperti membaca pengumuman penting yang sudah lama kutunggu tapi tak pernah benar-benar kupersiapkan.

“Kamu sendiri kangen nggak sama aku?” balasku, setengah bercanda, separuh sungguhan.

Balasannya datang cepat: “Kalau aku jawab nggak, itu kebohongan terang-terangan. Jadi, ya. Aku kangen. Tapi… aku juga takut.”

“Takut apa lagi?” tanyaku.

“Takut ketemu kamu,” tulisnya. “Takut lihat apakah perasaan kita masih sama, atau cuma ilusi karena jarak.”


Dan itulah sebabnya, pagi ini, aku duduk di dermaga, menatap laut dengan earphone di telinga, menunggu seseorang yang sudah lama menanam sesuatu di hatiku.

Raina memintaku menemuinya di sini, bukan di stasiun, bukan di kafe kampus. “Kalau bisa,” katanya di pesan terakhir semalam, “aku mau pertama kali ketemu lagi sama kamu di tempat yang… nuansanya bening. Biar kita bisa lihat perasaan kita tanpa terlalu banyak suara.”

Aku sempat tertawa membaca pesannya. Tapi kini, duduk sendirian di dermaga dengan suara ombak yang pelan, aku mengerti maksudnya. Di sini, dunia memang terasa jernih; tak banyak gangguan. Hanya ada laut yang luas, langit yang pelan-pelan memudar dari pucat ke biru, dan ruang di dalam dada yang menunggu sesuatu—atau seseorang.

Aku hampir tenggelam dalam pikiranku sendiri ketika langkah pelan terdengar dari belakang. Awalnya samar, lalu semakin jelas.

“Aku telat, ya?” suara itu bertanya, ragu.

Aku berbalik.

Raina berdiri beberapa langkah dariku, dengan ransel lebih kecil di punggung dan kemeja putih longgar yang ditiup pelan angin laut. Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit berantakan, tapi entah kenapa justru membuatnya terlihat… hidup.

Sekilas, tidak ada yang berubah drastis. Dia masih Raina yang kukenal: wajah yang biasa saja menurut standar orang-orang yang suka hal mencolok, senyum yang tidak berusaha memikat siapa pun. Tapi di matanya, ada sesuatu yang berbeda. Atau mungkin akulah yang baru bisa melihatnya sekarang.

“Baru telat beberapa menit,” jawabku. “Lautnya nggak komplain kok.”

Dia tertawa kecil. Suara itu, alih-alih membuat waktu berhenti, justru membuat segala sesuatu terasa berjalan lebih wajar.

“Kamu kelihatan… sama,” ucapnya, melangkah mendekat. “Tapi juga kerasa beda.”

“Beda gimana?” tanyaku.

Dia mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin karena sekarang aku datang dengan kacamata baru. Kacamata yang bikin aku sadar bahwa dulu aku kebanyakan pura-pura.”

Kami berdiri berdampingan, menatap laut. Tak ada kata-kata selama beberapa detik. Hanya bunyi ombak yang naik turun, seperti nafas besar yang diambil dunia.

“Aku takut,” katanya pelan, memecah hening.

“Takut lagi?” aku meliriknya.

Raina tersenyum miring. “Takut kalau setelah ketemu, ternyata semuanya berubah. Entah jadi terlalu berlebihan, atau ternyata… hilang.”

Aku menarik napas. Kali ini, aku tidak ingin menutupi apa-apa dengan candaan.

“Aku juga takut,” jawabku. “Tapi sepanjang kamu jauh, ada satu hal yang nggak berubah.”

“Apa?” tanyanya.

“Setiap kali kamu kirim foto pantai pagi, atau cerita soal hari-harimu… rasanya kamu nggak pernah benar-benar pergi dari sini,” ujarku sambil menepuk pelan dada kiri. “Dan kalau sesuatu bisa tetap bertahan di sini selama itu, mungkin itu bukan ilusi.”

Raina menatapku lama. Mata kami bertemu, tanpa drama, tanpa soundtrack menggelegar. Hanya dua pasang mata yang sama-sama mencoba jujur.

“Jadi sekarang, kita apa?” tanyanya akhirnya, dengan suara nyaris berbisik.

Aku berpikir sejenak. Banyak jawaban yang melintas di kepala: pacar, pasangan, kekasih, atau istilah-istilah manis lain yang biasa orang pakai. Tapi kata-kata itu terasa terlalu kecil untuk menjelaskan perjalanan perasaan yang pelan, tenang, namun pasti ini.

“Kita…” aku tersenyum, “dua orang yang nggak lagi pura-pura menganggap semuanya biasa saja. Dan kalau kamu mau… kita bisa coba menjalani ini bersama. Pelan-pelan. Tanpa janji berlebihan, tapi dengan niat yang jernih.”

Raina menunduk sebentar, lalu mengangguk. Ada kilat tipis di ujung matanya, mungkin cahaya mentari yang mulai menguat, mungkin sesuatu yang menghangat di dalam dirinya.

“Ternyata, dari semua kota yang pernah aku datangi,” katanya, “yang paling susah ditinggalkan bukan tempatnya, tapi orang yang nungguin di ujung ceritanya.”

Pelan-pelan, tanpa terburu-buru, ia mengulurkan tangan. Kali ini, ketika jemari kami saling bertemu, ada sesuatu yang berbeda. Bukan petir, bukan letupan besar, tapi denyut lembut yang terasa sampai ke dada. Seperti ombak kecil yang menyentuh pantai berulang-ulang, tak lelah.

Aku menggenggam tangannya, membiarkan kehangatan itu mengalir.

Di hadapan kami, laut terhampar luas, seperti halaman kosong yang menunggu ditulis. Langit kini lebih biru, tapi masih menyisakan sisa-sisa pucat pagi yang jernih.

Nuansa bening, pikirku. Bukan lagi sekadar istilah yang dilontarkan Raina suatu sore di bangku taman kampus. Tapi suasana di mana hati bisa melihat bayangan yang selama ini dipendam, dengan jelas.

Dan di dalam nuansa bening itu, bayangannya bukan lagi sekadar siluet yang lewat—melainkan sosok yang kini berdiri di sisiku, menggenggam tanganku, menatap arah yang sama.

Mungkin kami tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Mungkin nanti ada badai, mungkin langit mendadak mendung. Tapi pagi ini, di dermaga yang sepi, dengan laut sebagai saksi, aku tahu satu hal: kasih yang dulu ia tanam, diam-diam telah tumbuh di dalam hatiku, dan aku siap menjaganya.

Pelan-pelan, setulus doa yang berbisik di antara suara ombak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here