Jakarta – Dalam puncak peringatan Hari Guru Nasional 2025, Presiden Prabowo Subianto melontarkan kalimat paling keras yang langsung membelah ruang publik: sentilan terbuka kepada anak-anak pejabat yang bersikap kurang ajar terhadap guru.
Bukan sekadar keluhan, tetapi peringatan moral bahwa jabatan orang tua tidak otomatis memberi hak istimewa untuk bersikap semena-mena.
“Kalau bapaknya jenderal, anaknya harus lebih sopan, lebih baik. Jangan kurang ajar!”
— Prabowo Subianto, Hari Guru Nasional 2025
Pernyataan ini, yang diikuti sorakan ratusan guru di ruangan acara, bukan hanya kritik biasa. Ia adalah teguran langsung kepada budaya baru di kalangan anak pejabat—di mana arogansi sering lahir dari rasa aman karena nama besar orang tuanya.
FENOMENA YANG SEMUA ORANG TAHU, TAPI TAK ADA YANG BERANI BICARA
Kalimat Prabowo menguak realitas yang sudah lama mengakar:
-
Anak pejabat merasa “kebal” di sekolah.
-
Anak aparat mengancam guru saat ditegur.
-
Anak pejabat memaksa perlakuan khusus—dari nilai, absen, sampai kelulusan.
-
Guru ditekan orang tua “berkuasa” jika menegur anaknya.
Dan seperti kata Prabowo, yang nakal itu bukan hanya murid—tapi sistem yang membiarkan arogansi berkembang.
Prabowo menyinggung langsung kasus yang terjadi ketika dirinya masih menjabat Menteri Pertahanan. Ada murid yang membalas teguran guru dengan sikap tidak sopan, bahkan menunjukkan perilaku kurang ajar.
Kepala sekolah mengambil tindakan tegas: memberhentikan siswa tersebut.
Namun yang terjadi selanjutnya menggambarkan persis masalah bangsa ini.
“Tahu-tahu kepala sekolahnya grogi, karena yang diberhentikan itu anak jenderal.”
Ini adalah inti masalah: anak tidak hormat, orang tua makin tidak hormat.
Dan negara membiarkan pola itu terjadi bertahun-tahun.
PRABOWO: “SURUH JENDERAL ITU MENGHADAP SAYA!”
Prabowo melanjutkan ceritanya dengan nada tinggi—emosional tapi spontan.
Kepala sekolah melapor kepada Prabowo tentang keraguannya. Bukan karena takut salah, tapi karena takut pada jabatan ayah sang murid. Dan reaksi Prabowo justru menjadi highlight paling viral:
“Enggak usah ragu-ragu. Mana jenderal itu? Suruh menghadap saya!”
Kalimat itu disambut tepuk tangan riuh.
Ada pesan yang sangat jelas:
-
Guru berhak menegur.
-
Guru berhak mendisiplinkan murid.
-
Jabatan orang tua tidak menjadi penghapus akhlak.
Dan Prabowo menegaskan lagi dengan kalimat keras:
“Kalau bapaknya orang besar, anaknya harus lebih sopan!”
Dalam satu kalimat itu, ia menegur dua generasi sekaligus:
anak yang kurang ajar, dan orang tua yang membiarkan.
ANAK PEJABAT KURANG AJAR? ITU CERMINAN BAPAKNYA
Ucapan Prabowo membuka diskusi yang tidak nyaman tetapi sangat penting.
Di berbagai sekolah, fenomena ini nyata:
-
Anak bupati memaki guru.
-
Anak anggota DPR mengancam “lapor papa”.
-
Anak pejabat kepolisian merasa sekolah harus tunduk.
-
Anak pengusaha besar meminta perlakuan khusus dengan nada tinggi.
Dan ini bukan sekadar perilaku remaja.
Ini reproduksi langsung dari perilaku orang tua mereka.
Seorang guru di Jawa Barat pernah berkata kepada BI News:
“Anak itu hanya meniru. Kalau orang tuanya sombong, anaknya lebih sombong.”
Inilah sebabnya peringatan Prabowo sangat keras:
Masalah moral bangsa sering kali berawal dari orang-orang yang justru paling berkuasa.
KETIKA GURU TAKUT, PENDIDIKAN MATI PELAN-PELAN
Ucapan Prabowo menyinggung inti persoalan besar di dunia pendidikan Indonesia:
1. Guru takut menegur murid “anak pejabat”
Teror dari orang tua bisa datang dalam bentuk:
-
telepon tengah malam,
-
laporan ke dinas,
-
ancaman mutasi,
-
sampai lapor media lokal.
2. Sekolah takut hukuman publik
Apalagi jika orang tuanya dikenal “punya akses”.
3. Murid tumbuh tanpa batasan
Karena hidupnya dibentengi kuasa, bukan dibentuk karakter.
4. Akhirnya guru menyerah
Menghindari konflik, nilai dibaguskan, kedisiplinan dibiarkan longgar.
Semua ini merusak generasi dan menghilangkan wibawa pendidikan.
Dan itu semua diucapkan Presiden di depan panggung Hari Guru, hari yang tepat untuk mengembalikan martabat pendidik.
PRABOWO: “KALAU ANAKMU NAKAL, JANGAN SALAHKAN GURUNYA”
Ada satu bagian pidato yang paling banyak disorot publik:
“Kalau guru keras, jangan-jangan anakmu yang nakal.”
Ini pukulan telak untuk orang tua yang selalu menyalahkan guru ketika anaknya ditegur.
Prabowo bahkan mengakui dirinya dulu nakal. Dan ia tidak akan menjadi presiden jika tidak dididik keras oleh gurunya.
Ini adalah deklarasi moral:
-
Guru wajib tegas.
-
Orang tua wajib mendukung, bukan mengancam.
-
Anak pejabat tidak boleh menjadi pengecualian.
KALIMAT VIRAL LAIN: “BOSAN ENGGAK KAU DENGAR KAYAK GITU? AKU PUN BOSAN.”
Di bagian lain, Prabowo menyinggung teks pidato yang “terlalu formal”.
“Bosan enggak kau dengar kayak gitu? Aku pun bosan.”
Publik menilai ini sebagai bentuk spontanitas, tetapi juga kritik halus:
acara pendidikan terlalu sering diisi pidato, bukan substansi.
Dan ini memberi kontras besar:
pidato yang biasanya kaku berubah menjadi momen jujur, cair, dan penuh kritik sosial.
KESIMPULAN: TEKANAN TERBUKA UNTUK BANGSA
Pidato Hari Guru ini pada akhirnya bukan hanya soal guru.
Ini soal budaya kekuasaan, moral keluarga pejabat, dan akhlak generasi penerus.
Sentilan keras Prabowo menggema sebagai pesan berikut:
Bangsa hanya maju jika guru dihormati.
Dan anak pejabat justru harus menjadi teladan, bukan sumber masalah.







