Jakarta – Derita warga Sumatera Utara akibat banjir dan longsor (bansor) yang terjadi sejak akhir pekan terus bertambah. Puluhan desa masih terisolasi, akses logistik terputus, dan proses evakuasi berjalan lambat karena minimnya alat berat serta sulitnya menjangkau lokasi terdampak. Kondisi ini membuat banyak pihak mengingatkan bahwa Sumut tidak boleh dibiarkan bekerja sendirian dalam menghadapi bencana kemanusiaan berskala besar ini.
Aktivis lingkungan hidup dari Kelompok Telapak Sumut, Sundari Maulia, menyerukan agar pemerintah pusat segera mengerahkan tambahan kekuatan untuk membantu tim di lapangan. Ia menegaskan bahwa kapasitas pemerintah daerah memiliki batas dan tidak sebanding dengan luas wilayah terdampak.
“Sumut butuh dukungan penuh. Penambahan alat berat adalah keharusan untuk membuka akses yang tertutup longsor. Tanpa itu, warga di pedalaman sulit tersentuh bantuan,” kata Sundari, Minggu (30/11/2025).
Menurutnya, situasi di beberapa wilayah seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, hingga Langkat sangat memprihatinkan. Ada desa-desa yang hingga hari ini belum tersentuh evakuasi darat karena longsor menutup seluruh jalur.
Desak Penambahan Heli dan Hercules
Sundari juga menekankan perlunya peningkatan armada udara, terutama helikopter dan pesawat Hercules milik TNI AU, untuk mempercepat distribusi bantuan.
“Heli dan Hercules harus ditambah. Jalur darat rusak parah. Satu-satunya cara menolong warga terisolir adalah lewat udara,” ujarnya.
Ia mengingatkan, Sumut adalah provinsi besar dengan geografi perbukitan yang rumit. Jika keterlibatan pemerintah pusat terlambat, maka risiko keterlambatan bantuan dan jatuhnya korban jiwa bisa meningkat.
Pemuda Sumut Diminta Turun Gunung: ‘Ini Ujian Solidaritas Kita’
Selain pemerintah pusat, Sundari menyampaikan bahwa pemuda Sumatera Utara harus menjadi garda terdepan dalam situasi bencana. Ia menegaskan bahwa bencana ini bukan sekadar persoalan pembangunan infrastruktur, tetapi tanggung jawab moral dan kemanusiaan bersama.
“Pemuda Sumut harus bersatu dan turun tangan. Jangan biarkan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota bekerja sendirian. Ini ujian solidaritas kita sebagai satu daerah,” tegasnya.
Penjarahan Harus Ditangani Cepat Agar Tidak Meluas
Ia turut mengingatkan bahwa kondisi darurat seringkali memicu kerawanan sosial. Laporan mengenai aksi penjarahan di beberapa wilayah tidak boleh dianggap enteng.
“Penjarahan tidak boleh dibiarkan. Ini bisa memicu konflik sosial yang justru menghambat upaya penyelamatan korban,” ujarnya.
Keterlambatan respons cepat dapat memperburuk keadaan. Ia mendesak aparat segera menertibkan situasi agar warga tidak mengambil langkah sendiri akibat kelaparan atau kurangnya bantuan.
Gubernur Bobby Nasution Masih di Tapanuli Tengah: Distribusi Logistik via Udara Berlanjut
Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution hingga hari ini masih berada di Kabupaten Tapanuli Tengah untuk memimpin langsung penanganan bencana di daerah tersebut. Memasuki hari ketiga, Gubernur kembali mengerahkan distribusi logistik melalui jalur udara.
“Kami mendistribusikan bantuan via udara ke Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka. Daerah ini berada di perbukitan dan masih terisolasi,” ungkap Bobby dalam keterangan resminya.
Operasi distribusi dari udara dilakukan karena jalur darat tertutup longsor besar, dan sebagian jembatan penghubung dilaporkan hanyut terbawa banjir.
Gubernur menambahkan bahwa pemerintah provinsi telah berkoordinasi dengan Kantor SAR, BNPB, dan TNI–Polri, namun “bencana kali ini membutuhkan lebih banyak tenaga, lebih banyak alat, dan lebih banyak dukungan nasional.”
Bansor Sumut: Bencana Daerah, Tanggung Jawab Nasional
Walaupun bencana terjadi di wilayah Sumatera Utara, para aktivis menegaskan bahwa dampaknya bukan hanya masalah provinsi. Ini adalah bencana kemanusiaan, dan negara harus hadir secara penuh.
“Sumut bukan pulau yang berdiri sendiri. Ini bagian dari Indonesia. Ketika warga masih terjebak, bantuan harus masuk tanpa menunggu birokrasi,” tutup Sundari.
Banjir dan longsor ini telah membuka mata banyak pihak bahwa sistem mitigasi bencana di daerah masih memiliki kelemahan. Namun yang paling penting saat ini adalah menyelamatkan nyawa dan memulihkan akses. Warga menunggu kehadiran penuh pemerintah pusat — bukan besok, tetapi hari ini.







