Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img
HomeNewsDr. Moh. Hatta: MUI Harus Menjadi Rumah Besar Umat Islam

Dr. Moh. Hatta: MUI Harus Menjadi Rumah Besar Umat Islam

Medan — Dr. Moh. Hatta menegaskan kembali bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus menjadi rumah besar bagi seluruh umat Islam di Sumatera Utara, tanpa membedakan latar belakang organisasi, mazhab, maupun komunitas keagamaannya.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara khusus menjelang Musyawarah Daerah MUI Sumut yang akan memilih kepengurusan baru pada Desember ini.

Menurut Dr. Hatta, posisi ulama dalam pembangunan Sumatera Utara sangat strategis—baik secara moral, sosial, maupun dalam memberikan arah kebijakan publik. “Ulama bukan sekadar pemberi fatwa. Ulama adalah penjaga moral masyarakat dan mitra kritis pemerintah agar pembangunan tetap berjalan dalam koridor kemaslahatan dan keadilan sosial,” ujarnya.

Ulama di Tengah Masyarakat Multikultural

Sumatera Utara dikenal sebagai salah satu provinsi paling beragam di Indonesia, dengan tingkat pluralitas agama, budaya, dan etnis yang tinggi. Dalam konteks ini, Dr. Hatta menilai bahwa ulama memegang peran vital sebagai penjaga harmoni sosial.

Ulama, katanya, harus memiliki wawasan keagamaan yang kuat sekaligus memahami dinamika kebangsaan, komunikasi lintas budaya, dan kemampuan meredam potensi konflik sosial di tingkat akar rumput.

Tantangan terbesar ulama hari ini, menurutnya, adalah pesatnya perubahan sosial akibat perkembangan teknologi digital. Media sosial menjadi ruang dakwah yang luas, tetapi sekaligus arena penyebaran disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi.

“Di sinilah ulama harus hadir sebagai penyejuk. Menyampaikan kebenaran yang dapat diverifikasi, memberikan keteduhan, dan menjadi benteng moral di tengah arus informasi yang sering kali tidak terkendali,” jelasnya.

MUI: Penyeimbang dan Pemberi Nasihat

Menjawab pertanyaan mengenai hubungan ulama dan pemerintah daerah, Dr. Hatta menegaskan bahwa MUI harus berdiri independen dan objektif. MUI tidak boleh terseret kepentingan politik praktis sehingga kehilangan kepercayaan publik. Meski demikian, MUI tetap harus menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan.

“MUI harus mampu menjadi penyeimbang. Jika pemerintah mengambil kebijakan yang benar dan berpihak pada kemaslahatan umat, kita wajib mendukung. Tetapi jika ada kebijakan yang melenceng dari nilai keadilan, ulama harus berani memberikan nasihat. Ini bukan oposisi, ini bagian dari amar ma’ruf nahi munkar,” tegasnya.

Sebagai Ketua Baznas Sumut, Dr. Hatta ingin meneguhkan kembali peran MUI sebagai lembaga moral yang relevan dalam isu-isu strategis daerah, mulai dari pendidikan, kemiskinan, ketahanan keluarga, hingga lingkungan hidup dan moderasi beragama. Baginya, suara ulama harus memastikan pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kualitas manusia dan akhlaknya.

Memperkuat Harmoni dan Dialog Lintas Agama

Dr. Hatta menilai bahwa Sumatera Utara memiliki modal sosial yang kuat dalam hubungan antarumat beragama. Meski sesekali muncul ketegangan, masyarakat Sumut umumnya terbuka, egaliter, dan mudah berdialog.

Karena itu, MUI perlu memperkuat program dialog lintas agama serta membangun kemitraan dengan organisasi keagamaan lain. “Kita hidup berdampingan dengan saudara-saudara dari agama lain. MUI harus hadir membawa keteduhan, menjadi jembatan komunikasi, bukan dinding pemisah,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan ulama dalam penyelesaian konflik sosial di daerah, terutama yang bernuansa keagamaan atau etnis. Menurutnya, ulama harus turun langsung membangun suasana damai, bukan hanya menyampaikan fatwa di mimbar.

Kolaborasi Ulama, Akademisi, dan Pelaku Usaha

Salah satu gagasan penting Dr. Hatta adalah membangun ekosistem kolaborasi antara ulama, akademisi, dan pelaku usaha. Menurutnya, pembangunan ekonomi daerah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah.

“Ulama bisa menjadi jembatan literasi keuangan syariah, pemberdayaan ekonomi umat, hingga etika bisnis di tingkat akar rumput. Akademisi menyediakan riset, dan pelaku usaha menjadi motor lapangan kerja. Kolaborasi ini bisa mempercepat kemajuan Sumatera Utara,” jelasnya, yang pernah menjabat KaKanwil Kemenag Sumut.

Regenerasi Ulama: Membangun Kader yang Melek Zaman

Ketika ditanya mengenai regenerasi ulama, Dr. Hatta menekankan pentingnya membuka ruang pembinaan bagi ulama muda, terutama yang melek digital dan memahami dinamika sosial kontemporer.

Ia berharap MUI Sumut dapat menjadi pusat pengembangan ilmu keislaman yang progresif dan inklusif, sekaligus melahirkan ulama-ulama muda yang mampu menjawab tantangan zaman.

“Kita ingin MUI hadir bagi semua, menjadi tempat pulang bagi umat, sekaligus benteng moral yang menjaga Sumatera Utara tetap kondusif, maju, dan bermartabat,” pungkas mantan Ketua MUI Kota Medan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here