BI News — Ekonomi Indonesia diperkirakan memasuki fase perlambatan signifikan pada tahun 2026. Sejumlah indikator domestik menunjukkan pelemahan daya beli, kenaikan kredit macet, serta tekanan fiskal yang kian besar. Sejumlah analis memperingatkan, kondisi ini berpotensi menyeret Indonesia masuk fase stagflasi — situasi ketika harga-harga naik tetapi pertumbuhan ekonomi justru stagnan.
IHSG Meroket, Ekonomi Nyata Justru Melemah
Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa bulan terakhir sempat dipuji sejumlah pejabat sebagai bukti kuatnya ekonomi Indonesia. Namun sejumlah analis mengingatkan, kenaikan IHSG saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional.
Ekonom Yanwar Rizki menilai, kenaikan IHSG tidak disokong pertumbuhan sektor riil, melainkan oleh aktivitas portofolio jangka pendek serta arus modal yang bersifat spekulatif. “IHSG bisa naik, tapi ekonomi riil turun dan rakyat tidak merasakan apa-apa,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Prof. Feri Latuhihin yang menyoroti adanya sinyal tekanan pada daya beli dan kredit konsumsi rumah tangga. Menurutnya, jika kondisi ini terus berlangsung, perlambatan pertumbuhan pada 2025 akan semakin terasa pada 2026 dan membuka peluang stagflasi.
Pertumbuhan Diprediksi Melambat
Berdasarkan proyeksi berbagai institusi dan analisis independen, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang turun di bawah 4 persen pada 2026, bahkan mendekati level 3 persen jika tekanan daya beli dan risiko global meningkat.
Perkiraan garis besar:
-
2024: ±5 persen
-
2025: ±4,2 persen
-
2026: 3,2–3,8 persen
Penurunan ini bukan sekadar perlambatan siklus, melainkan melemahnya fondasi permintaan domestik yang menjadi pilar utama pertumbuhan Indonesia selama ini.
Daya Beli Tergerus
Salah satu indikator yang paling mengkhawatirkan adalah melonjaknya Non-Performing Loan (NPL) terutama di kredit konsumsi, kartu kredit, dan kredit pemilikan rumah di segmen berpendapatan rendah. Kenaikan NPL menunjukkan sebagian masyarakat mulai kesulitan memenuhi kewajiban finansialnya, termasuk akibat meningkatnya PHK dan stagnasi pendapatan.
Jika situasi ini tidak segera ditangani, risiko menurunnya konsumsi rumah tangga — yang selama ini menyumbang lebih dari 50% PDB — dapat menjadi pemicu utama perlambatan 2026.
Utang Negara Membesar, Ruang Kebijakan Mengecil
Di sisi lain, Pemerintah menghadapi tekanan fiskal yang semakin kuat. Penerimaan pajak belum mampu mengimbangi peningkatan belanja rutin dan pembayaran bunga utang. Sementara, sebagian utang jatuh tempo 2025–2027 membuat ruang kebijakan fiskal menjadi sangat terbatas.
Kondisi ini membuka kemungkinan pemerintah terpaksa mengurangi belanja sosial atau menunda program-program strategis. Di sisi moneter, Bank Indonesia dipaksa melakukan intervensi besar jika nilai tukar rupiah kembali melemah.
Jika tekanan eksternal memuncak — misalnya gejolak pasar global, ketegangan geopolitik, atau potensi default surat utang negara lain — rupiah sangat rentan menuju level Rp18.000 per dolar, seperti disebutkan sejumlah analis.
Sektor Riil Terjebak Stagnasi
Data kredit modal kerja dan kredit investasi menunjukkan kontraksi dalam dua kuartal terakhir. Sektor riil menahan ekspansi investasi baru karena prospek permintaan dianggap belum pulih.
Sebaliknya, korporasi besar justru lebih sibuk mengelola portofolio keuangan ketimbang meningkatkan kapasitas produksi. Fenomena ini tidak hanya menghambat penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga menekan daya serap tenaga kerja dalam negeri.
Indonesia Berpotensi Masuki Fase Stagflasi
Secara sederhana, stagflasi terjadi ketika inflasi naik tetapi pertumbuhan ekonomi stagnan. Di Indonesia, kombinasi kenaikan harga pangan, menurunnya konsumsi rumah tangga, serta terhambatnya ekspansi kredit menjadi sinyal kuat menuju kondisi tersebut.
Menurut Yanwar, risiko stagflasi justru muncul ketika IHSG dipaksakan naik melalui spekulasi, sementara indikator fundamental masyarakat menunjukkan penurunan. “Kenaikan IHSG bukan berarti kondisi rakyat membaik,” ujarnya.
Risiko Global Menguat
Selain faktor domestik, Indonesia juga berhadapan dengan ancaman eksternal. Koreksi di sektor teknologi, potensi bubble pada industri artificial intelligence, dan risiko gagal bayar surat utang di beberapa negara besar dapat menciptakan guncangan baru.
Selain itu, volatilitas harga komoditas global serta ketidakpastian geopolitik membuat Indonesia semakin rentan — terutama karena ekspor Indonesia masih didominasi komoditas mentah yang sensitif terhadap fluktuasi harga dunia.
Dampak ke Masyarakat
Jika perlambatan ekonomi memasuki wilayah 3 persen, dampaknya paling terasa bagi masyarakat kelas menengah bawah. Efek langsungnya antara lain:
-
pendapatan stagnan
-
kenaikan harga pangan
-
lonjakan PHK
-
pendapatan informal jatuh
-
kemampuan konsumsi turun
Jika kondisi ini berlangsung berkepanjangan, risiko kemiskinan meningkat menjadi ancaman serius, terutama di wilayah non-industri dan kabupaten.
Peringatan Serius Untuk 2026
Meski berbagai pernyataan optimisme disampaikan pejabat negara, para analis justru mengingatkan pemerintah agar berhati-hati. Tanpa langkah strategis untuk menguatkan sektor riil, meningkatkan perlindungan sosial, dan memperbaiki kepercayaan masyarakat, tahun 2026 berpotensi menjadi era tekanan ekonomi berkepanjangan.
Stagflasi bukan sekadar istilah teknis. Ia berarti harga naik, pertumbuhan mandek, dan rakyat semakin sulit membeli kebutuhan dasar.
BI News akan terus mengawal dinamika ini, termasuk menelaah risiko kebijakan dan dampaknya pada kesejahteraan publik.







