Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img
HomeBusinessDubes China: Whoosh Butuh Waktu Bertahun-tahun, Publik Indonesia Bertanya: “Lalu Kenapa Land...

Dubes China: Whoosh Butuh Waktu Bertahun-tahun, Publik Indonesia Bertanya: “Lalu Kenapa Land Bridge Bisa Lebih Murah?”

Jakarta – Pernyataan Duta Besar China bahwa proyek Whoosh “butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai titik impas” terdengar diplomatis, tapi sekaligus menyinggung nalar publik. Sebab masyarakat kini punya pembanding nyata: proyek Land Bridge di Arab Saudijalur kereta cepat sepanjang 1.500 kilometer dengan biaya hanya Rp116 triliun, sementara Whoosh yang cuma 142 kilometer menelan Rp113 triliun.

Artinya, biaya per kilometer Whoosh 10 kali lebih mahal. Maka wajar publik bertanya: jika Saudi bisa membangun dengan efisiensi dan transparansi, kenapa Indonesia tidak?

Retorika Diplomatik, Bukan Realita Ekonomi

Pernyataan Dubes China jelas bertujuan menjaga citra Beijing sebagai mitra strategis Indonesia di bawah skema Belt and Road Initiative (BRI). Ia menenangkan pasar dan pemerintah, bukan menjawab keresahan rakyat. Kalimat “butuh waktu bertahun-tahun” hanyalah pembenaran halus bagi proyek yang sudah telanjur membengkak dan belum menghasilkan laba.

Padahal, publik Indonesia tak lagi hidup di masa ketika kata “kerja sama strategis” bisa menutupi ketimpangan ekonomi. Rakyat kini bisa menghitung sendiri: tiket tak menutup operasional, utang menumpuk, dan restrukturisasi masih berlanjut.

Land Bridge: Efisiensi Bukan Janji

Arab Saudi membangun Land Bridge bukan untuk pencitraan, tapi untuk konektivitas ekonomi lintas wilayah. Proyek 1.500 km itu menelan Rp116 triliun — biaya yang sama dengan Whoosh, tapi dengan hasil sepuluh kali lebih panjang dan strategis.

Saudi mengatur proyeknya dengan efisiensi investasi, konsorsium terbuka, dan pengawasan yang ketat. Hasilnya: tanpa pembengkakan, tanpa beban fiskal, tanpa retorika panjang.

Bandingkan dengan Indonesia: proyek Whoosh masih berputar pada justifikasi “butuh waktu” dan “proyek besar.” Padahal masalahnya bukan skala, tapi pengelolaan dan transparansi.

Rakyat Tak Bodoh

Pernyataan Dubes China terdengar seolah publik Indonesia tak bisa menghitung untung-rugi. Ia lupa bahwa masyarakat kini membaca laporan keuangan, membandingkan standar global, dan tahu siapa yang diuntungkan dari kontrak proyek ini.
Kontraktor Tiongkok sudah menerima pembayaran; sementara Indonesia masih menanggung bunga pinjaman, depresiasi, dan biaya perawatan.

Jadi, jika proyek ini butuh “bertahun-tahun” untuk impas, pertanyaannya sederhana: siapa yang diuntungkan selama menunggu?

Kesimpulan

Kereta cepat Whoosh mungkin cepat di jalur, tapi lambat dalam logika bisnis. Publik bukan menolak kerja sama internasional, tapi menolak kerja sama yang hanya menguntungkan pihak asing dan elit negosiator dalam negeri.

Selama biaya Whoosh tak bisa disejajarkan dengan efisiensi proyek Land Bridge di Arab Saudi, maka pernyataan “butuh waktu” hanya terdengar seperti pembenaran dari pihak yang tak ingin disalahkan.

Rakyat Indonesia bukan bodoh — mereka hanya lelah dijadikan penonton proyek yang cepat di rel, tapi berat di akal.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here